Oleh: Nur Indah Naailatur Rohmah dan Amrina Jamilatus Solihah*

Kendati PKI telah lama dibekukan pada tahun 1996 silam, akan tetapi powernya belum dapat dikatakan lumpuh total. Sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak akan pernah mati laksana bom waktu, besar kemungkinan komunisme akan tumbuh kembali dan meracuni masyarakat. Ideologi komunis masuk ke Indonesia pada tahun 1913, diperkenalkan oleh Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet. Komunisme menolak kepemilikan barang pribadi dan mengklaim bahwa semua barang produksi menjadi milik bersama. Hal ini bertujuan agar terjadi kesetaraan antar-manusia dan tidak ada hirarki buruh-pemilik modal, karena sistem kapitalis dianggap cenderung mengeksploitasi manusia.

Beberapa bulan yang lalu, isu kebangkitan komunis khususnya Partai Komunis Indonesia (PKI) menyita perhatian banyak masyarakat. Atribut palu-arit yang merupakan simbol komunis muncul di berbagai daerah. Benarkah partai komunis telah bangkit kembali?. Hal ini tentu menjadi trending topik yang panas diperbincangkan. “very complicated, penuh misteri” demikianlah kalimat final yang hanya dapat disampaikan oleh sebagian sejarawan Indonesia mengenai dalang di balik peristiwa G30SPKI dalam simposium nasional dengan tajuk “membedah tragedi 1965” di Jakarta selama dua hari.

PKI, Bughatkah?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Imam Zakariya Al-Anshari dalam kitabnya, Asnal Mathalib Syarh Raudhatu-Thalib IV / 111 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bughat adalah sekelompok orang (organisasi) yang membangkang terhadap pemerintah dengan mengacu pada takwil yang salah, serta memiliki kekuatan (syaukah) yang terorganisir. Takrif yang sepadan juga disampaikan oleh Al-khatib Asy-Syirbini dalam Al-Iqna’ fii Halli Alfadzhi Abi Syuja’ dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhallanya XI/97-98 dengan penambahan “atau memberontak untuk tujuan duniawi”. Dengan memperhatikan catatan di atas, benang merahnya adalah bahwa ada indikator yang harus terdapat pada sebuah organisasi maupun kelompok yang bisa disebut bughat:

  1. Memisahkan diri keluar dari ketaatan terhadap pemerintah yang sah dengan cara melalukan pemberontakan.
  2. Memiliki kekuatan untuk bisa menggulingkan pemerintahan yang ada.
  3. Untuk menjustifikasi tindakan makarnya, para bughat mengacu pada pemahaman atau takwil yang menyebabkan sebuah kekacauan instabilitas negara.

Melihat fakta-fakta sejarah, tiga indikator tersebut ada pada diri PKI.

Seruan Jihad, apakah perlu?

Propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memporak-porandakan negara Indonesia, dapat kita kaitkan dengan seruan jihad yang merujuk pada hadits riwayat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah  Saw. Bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ، مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ. رواه مسلم

Artinya:  Barang siapa yang wafat dan tidak pernah berperang serta tidak terlintas sedikitpun di hatinya untuk perang, maka ia mati dalam kondisi munafiq.

Secara umum hadits diatas dihukumi sahih oleh mayoritas ulama yang diriwayatkan oleh Muslim Ibn Hajjaj, Al-Baihaqi, dan ulama hadits senior lainnya. Kendati demikian, hadits riwayat Muslim ini tidak dapat dipahami dan diterima secara tekstual dan literal. Agar mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap hadits tersebut, perlu dilakukan penelusuran terhadap latar belakang atau konteks sabda Nabi itu, sebab tidak semua hadits sahih berlaku umum, dapat diterapkan pada semua kondisi, dan harus diamalkan oleh setiap orang.

Menurut Ibnu Mubarak, hadits yang bersumber dari Abu Hurairah ini, tidak berlaku umum dan hanya boleh diterapkan pada situasi perang.[1] Memahaminya secara mentah-mentah, tanpa kritis dan mengamalkannya pada situasi damai adalah sebuah kekeliruan. Pada masa perang, jihad identik dengan kualitas keimanan seseorang. Sehingga sangat wajar apabila orang yang tidak mau berjihad atau tidak terlintas dalam hatinya sedikitpun niat jihad dikategorikan sebagai orang munafik.

Hal ini ababila kita konsepkan pada pembahasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa PKI memang sangat pantas disebut kaum separatis atau bughat dan layak menerima stigma “musuh bangsa”. Karena mereka bukan hanya mengangkat senjata dan menggulingkan pemerintahan yang ada tapi jauh dari itu, mereka berkeinginan mengubah Indonesia menjadi negara yang berideologi komunis yang memberontak terhadap pihak yang tidak sejalan.

Kesinambungan antara perlakuan PKI dengan hadist di atas maka perlu adanya tindakan untuk melawan segala tindakan buruk yang menyebabkan kerugian besar terhadap segala sisi kehidupan di Indonesia utamanya. Dengan catatan syarat dalam nahi munkar adalah harus tidak menyebabkan kemungkaran baru yang efeknya lebih parah dan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.


[1] ‘Ali Mula Al-Qari, Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih, vol.6, hal.248.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaFirasat Kebesaran Tokoh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
BerikutnyaSambut HSN 2021, Ikapete Gresik Silaturahmi ke Pesantren Tebuireng