Oleh: Adawiyah*

Al-Wafa atau kesetiaan atau menepati janji adalah sifat terpuji pada laki-laki dan wanita. Al-Wafa adalah bukti kejujuran, cinta dan keikhlasan. Allah telah memuji orang-orang yang setia, dalam firman-Nya :

بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ ٧٦

Sebenarnya barangsiapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS.Ali Imran: 76).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Allah juga menjanjikan orang-orang yang menempati janji dengan pahala yang besar, Allah berfirman, “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Kekuasaan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Dia akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 10)

Menepati janji selalu berhubungan dengan ketakwaan, maka ia tidak akan berubah walau berhubungan dengan musuh atau teman. Zainab, putri Rasulullah adalah bukti hidup dalam makna al-wafa (menempati janji). Menepati janji kepada agamanya, yang dengannya Allah telah memuliakannya. Menepati janji kepada suaminya, yang dia telah mengingatkan diri dengannya.

Karena itu, ketika Zainab baru saja mengetahui bahwa suaminya termasuk tawanan dan tidak dapat dibebaskan kecuali dengan membayar fidyah, maka dia pun cepat-cepat membayar fidyah dengan barang yang sangat berharga bagi dirinya yaitu kalung pemberian ibunya pada hari perkawinannya.

Kalung tersebut adalah kalung yang memiliki kenangan indah yang tidak mungkin dapat dihapus dengan perjalanan waktu. Kalung tersebut merupakan hadiah seorang ibu yang telah mengandung dan memelihara dirinya dari segala hal yang dapat mencelakakannya. Sehingga dengan sikap menepati janji untuk mengeluarkan suaminya, dalam diri Zainab telah mendorong dirinya untuk memberikan kalung tersebut dan suaminya dapat pulang serta memberikan cahaya dalam kehidupan keluarganya.

Tidak diragukan lagi bahwa sikap Zainab seperti di atas telah ditulis dengan tinta emas oleh sejarah. Alangkah bahagianya Zainab memiliki seorang suami yang selalu dirindukannya, ayah yang baik bagi anak-anaknya. Maka suatu saat Rasulullah berkata tentangnya, “Dia berbicara kepadaku dan dia mempercayainya, dia berjanji kepadaku dan dia menepatinya.”

Kata- kata yang diucapkan oleh Rasulullah tentangnya, dapat kita jadikan sebagai kunci untuk meneladani sifat-sifat budi pekerti, karena semuanya akan kembali pada kita yang mana pada seseorang yang menempati janji akan dekat dengan manusia. karena dia menepati dan tidak mengkhianati mereka.

Selain itu menepati janji merupakan salah satu unsur dasar dalam kepribadian seorang muslim atau muslimah. Tidaklah akan sempurna keimanan keduanya kecuali jika tidak memiliki sifat mulia ini.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaPerguruan Tinggi Islam Harus Menjawab 3 Tantangan Ini
BerikutnyaTebuireng Ngaji Matematika Bersama Gernastastaka & NU Circle