Tebuireng.online- Memperingati maulid Nabi Muhammad Saw., Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di bawah naungan Dewan Mahasantri (DEMA) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari menggelar muhaddhor ‘ammah pada Senin (11/10/2021) secara luring dan daring via zoom.

Acara yang berlangsung  di Masjid Utama Pesantren Tebuireng diikuti oleh seluruh mahasantri putra secara langsung dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, dan disiarkan langsung melalui Youtube Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.

KH. Agus Fahmi Amrullah Hadziq, Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng hadir sebagai pemateri dalam acara tersebut. “Nilai-nilai keteladanan Rasulullah dapat menjadi salah satu kunci kesuksesan seorang santri dalam menuntut ilmu,” tutur beliau.

Kemudian beliau menceritakan keutamaan dari shalawat. Di antaranya beliau mengisahkan tentang preman pada zaman nabi Musa yang sering melakukan maksiat selama 200 tahun berturut-turut. Akan tetapi si preman tersebut ketika membaca kitab Taurat dan melihat tulisan ‘Muhammad’ langsung meletakan kitab Taurat yang ada tulisan ‘Muhammad’ ke keningnya dan sambil menciumnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lanjut beliau, ketika si preman sudah meninggal dunia, para Bani Israil enggan sekali untuk mengurus mayit tersebut. Kemudian Allah mengutus nabi Musa untuk merawat mayit tersebut dengan mulia, sampai-sampai orang Bani Israil bertanya, “Wahai Musa, kenapa engkau merawat mayit tersebut dengan mulia?” Nabi Musa menjawab, “Saya diutus oleh Allah untuk merawat mayit tersebut dengan mulia. Karena mayit tersebut dulu ketika membaca kitab Taurat, dan menemukan tulisan ‘Muhammad’ langsung mencium dan membacakan allahuma shalli ‘ala sayyidina Muhammad”.

“Jadi, walaupun kita tidak pernah bertemu Nabi Muhammad, tapi kita selalu membaca shalawat niscaya kita akan mendapatkan keberkahannya,” ungkap adik dari KH. Ishomuddin Hadziq ini.

Cucu Hadratusyyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari ini juga berpesan kepada semua mahasantri, “Luweh apik dipisui wong tapi nglakoni apik, timbangane dipuji apik tapi nglakoni elek”. (Lebih baik dicaci namun melakukan perbuatan baik, daripada dipuji baik namun melakukan perbuatan buruk).

Acara ini dimeriahkan dengan pembacaan maulid diba’ oleh tim banjari mahasantri. Sebelum ditutup, acara diisi dengan tanya jawab mahasantri tentang shalawat dan faedahnya.

Pewarta : Ibnu Ubaidillah

SebelumnyaMewakili Jawa Timur, 3 Mahasantri Tebuireng Siap ke Maluku Utara
BerikutnyaIKAPWS Gelar Mukernas, JTQ untuk Kemaslahatan Umat