ilustrasi: pelangiblog

Oleh: M. Zulfikri*

Tidak ada yang tau kapan kehidupan dari seorang manusia akan berakhir dan seperti apa akhir dari hidupnya. Apakah dalam keadaan beriman atau tidak. Layaknya rezeki, maut pun datang dari arah yang tidak disangka-sangka, tidak memandang usia, sedang melakukan apa, entah sedang shalat ataupun maksiat.

Pernah berbuat baik atau dinilai sebagai orang baik di mata manusia belum menjamin hidup seorang manusia berakhir husnul khatimah, tetapi bagaimana cara kita mempertahankan perbuatan baik itu. Maka yang seharusnya dilakukan adalah menjaga ketakwaan sampai akhir hayat, sebagaimana dalam firman Allah Q.S Al-Imran ayat 102.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ada sebuah kisah seorang murid paling alim dari Imam Fudhail bin Iyadh yang meninggal dalam keadaaan su’ul khatimah. Di penghujung napas terakhirnya, Imam Fudhail menjenguk muridnya tersebut. Sampai tiba di rumah muridnya, Imam Fudhail duduk di sisi kepala muridnya dan membacakan surah Yaasin, tetapi muridnya mengatakan “jangan kau baca surah tersebut”. Imam Fudhail pun berhenti membacakannya.

Kemudian Imam Fudhail membacakan kalimat tahlil. Namun, sang murid tidak sanggup mengikutinya. Beberapa kali dituntun tetap tidak mampu untuk mengikuti. Bahkan sang murid mengatakan “Aku tak akan pernah membaca itu, karena aku terbebas darinya”. Kemudian murid tersebut meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.

Beberapa hari kemudian, di dalam mimpinya, Imam Fudhail melihat muridnya itu diseret ke dalam neraka. Imam Fudhail pun bertanya kepada muridnya. Apa sebabnya Allah Swt mencabut kenikmatan itu darimu, padahal kamu adalah muridku yang paling alim?

Sang murid menjawab, semua itu karena yang pertama, adu domba. Aku memberi tahu teman-temanku berbeda dari apa yang kau ucapkan. Kedua, iri hati. aku sering kali merasa iri kepada teman-temanku. Dan yang terakhir, aku pernah meminum arak. Saat itu aku sedang sakit, dan aku menanyakan penyakitku kepada seorang dokter. Dokter itu menyuruhku untuk meminum arak agar penyakit itu tidak bersarang di tubuhku.

Itulah kisah yang bisa kita pelajari dan ambil himmahnya. Oleh karena itu, sebagai seorang santri, kita harus selalu berupaya agar dijauhkan oleh tiga hal tersebut, adu domba, iri hati, dan meminum arak, sebab itulah murid Imam Fudhail yang terkenal sangat alim meninggal dalam keadaan su’ul khatimah, sebab kealimannya berbeda dari apa yang diperlihatkan.

Inilah ciri orang munafik, orang yang kelihatannya baik dan alim tetapi sebenarnya ia sendiri yang mengingkari keimanannya. Orang-orang yang memiliki sifat munafik akan mendapatkan balasan yang setimpal kelak di akhirat. Sebagaimana dalam Q.S An-Nisa ayat 145.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ

Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

Dalam pengajian kitab Nasho’ihul Ibad oleh KH. Fahmi Amrullah, yang perlu dimiliki oleh manusia adalah rasa takut atau khawatir, ketika kematian itu datang menjemput disaat kita sedang lalai, tidak merasa sombong atas ibadah atau amal yang dilakukan, dan tidak memandang sebelah mata orang-orang yang berbuat maksiat, sebab tidak ada yang tahu kepada siapa Allah akan memberikan hidayah.

*Mahasiswa Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaKita Memang Berbeda, Mengapa Jadi Masalah Paling Rumit?
BerikutnyaKedubes AS di Jakarta ke Tebuireng, Tanyakan Peninggalan Kiai Hasyim Asy’ari