sumber ilustrasi: nu.or.id

Oleh: Dimas Setyawan*

Ada salah satu kitab yang menjadi primadona berbagai pesantren di Indonesia. Kitab yang sangat luar biasa dengan bait-baitnya yang memukau, dan dengan segala keberkahan yang menyertai. Kitab ini juga menjadi sebuah pencapaian dan impian setiap santri.

Bahkan ada sebuah pepatah yang berbunyi, “barang siapa yang hendak mahir membaca kitab, maka harus mempelajari 1 kitab ini.” Selain dipelajari, setiap santri juga diharuskan menghafal kitab ini sebagai syarat kelulusan semasa mondok di pesantren.

Kemudian kitab ini juga disusun dengan bahasa yang sangat sederhana tetapi menjadi rujukan ulama-ulama Ilmu Nahwu di setiap penjuru dunia. Kitab tersebut ialah kitab Alfiyah Ibnu Malik. Sesuai namanya, Alfiyah yang bermakna “seribu dua” yang mana bait-baitnya berjumlah sebanyak 1002 bait.

Tetapi masih sangat sedikit yang mengenal sosok dibalik penyusunan kitab luar biasa ini. Yah, penyusun kitab ini adalah Imam Ibnu Malik, yang bernama lengkap, Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah Ibnu Malik al-Thay.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau dilahirkan di Jayyan (Jaen)  sebuah kota kecil Andalusia (Spanyol), sekarang merupakan salah satu provinsi di Spanyol dengan luas wilayah 422km yang masuk dalam wilayah otonomi Andalusia. Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta pada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan mengacu pada mengarang buku-buku ilmiah.

Perjalanan Mencari Ilmu

Semasa kecil Imam Ibnu Malik telah mencari ilmu diberbagai ulama dan negara, salah satu guru beliau ialah Syaikh Al-Syalaubini (w. 645 H). Setelah mengijak umur dewasa, Imam Ibnu Malik, berangkat ke Timur Tengah untuk menunaikan ibadah haji, dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di Negeri Syam, ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain: Al-Sakhawi (w. 643.H) Syaikh Ibnu Ya’isy Al-Halaby (w.643 H) Syeikh Hasan Bin Shabbah, Syeikh Ibnu Abi Shaqr, Syeikh Ibnu Najaz Al-Maushili, Ibnu Hajib, Ibnu Amrun dan Muhammad bin Abi Fahdhal al-Mursi.

Di kota Damaskus dan Aleppo (Halab) nama Ibnu Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang mengambarkan teori-teori Mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu.

Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh para murid-murid beliau, antara lain, Al-nawawi, Ibnu Al-Atharm Al-Mizzi, Al-Dzahabi, Al-Shairafim Dan Qadli Al-Qudlat ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya, Imam Ibn Malik senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks Al-Quran. Bila tidak ditemukan beliau meyajikan teks Al-Hadist. Bila tidak ditemukan juga, maka beliau mengambil saksi dari syair-syair sastrawan Arab kenamaan.

Semangat Menyebarkan Ilmu

Imam Ibnu Malik memiliki semangat yang besar dalam mengajarkan ilmu yang telah ia miliki. Ketika ia mengahadiri majelis ilmu yang kadang belum dihadiri oleh murid-muridnya, maka belau berdiri di jerjak jendela dan berteriak “qiraah, qiraah Arabiyah, Arabiyah” (maksudnya memanggil siapa saja yang ingin belajar ilmu qiraah atau ilmu arabiyah kepada beliau). Bila teryata tidak ada yang hadir maka beliau berdoa dan segera pergi seraya berkata “saya tidak tau untuk membebaskan tanggunganku kecuali dengan cara ini, karena kadangkala tidak ada yang tau, kalau saya duduk di sini.” Ujar beliau.

Walaupun Ibnu Malik juga ahli dalam ilmu qiraah, namun tidak diketahui murid beliau dalam ilmu qiraah. Ibnu Jazri mengatakan “ketika beliau masuk kota Aleppo (Halab) banyak para ulama yang mengambil ilmu Arabiyah dari beliau, tetapi saya tidak mengentahui seorang pun yang membaca ilmu qiraah di hadapannya dan saya juga tidak punya sanad ilmu qiraah beliau ajarkan diselain kota Aleppo”.

Kisah Menarik dalam Penyusuan Kitab Alfiyah Ibnu Malik

Terdapat kisah menarik tentang penyusunan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Ketika memulai menulis nadhamnya, saat baru sampai pada nadham:

فا ئقة ألفية ابن معطي

Yang artinya: “Kitab Alfiyah yang aku tulis mengungguli kitab Alfiyah karya Ibnu Mu’thi”

Beliau menambahkan lagi:

فائقة منها بأ لف بيت

 “Mengungguli dari Alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait”.

Sampai pada kalimat ini, Ibnu Malik kehilangan inspirasi untuk melanjutkan nadhomnya. Beliau berusaha melanjutkan namun hingga sampai beberapa hari belum juga disempurnakan. Pada suatu malam beliau bermimpi bertemu dengan sesorang. Dalam mimpi tersebut, seseorang itu bertanya, “Aku dengar kamu mengarang kitab Alfiyah dalam Ilmu Nahwu?”

Imam Ibnu Malik menjawab: “Iya Bener.”

Orang itu bertanya lagi: “Sampai pada nadham mana engkau menulisnya?”

Ibnu Malik menjawab: “Sampai pada ‘fai’qatan minha bi alfi baiti”

Orang itu bertanya, apa yang membuatmu tidak menyempurnakannya?

Beliau menjawab: “Sudah beberapa hari aku tidak bisa melanjutkan menulis Nadham.”

Orang itu bertanya lagi: “Apakah kamu ingin meyempurnakanya?”

“Tentu.” jawab Ibnu Malik.

Kemudian orang tersebut berkata:

فَائِقَـةً مِنْهُ بِألْـفِ بَيْتِ ¤ وَالْحَيُّ يَغْلِبُ ألْفَ مَيِّـتِ

“Mengungguli dari Alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait”.

“Dan orang masih hidup bisa mengalahkan seribu orang mati”.

Terperangah Ibnu Malik dengan perkataan itu, Ibnu Malik bertanya: “Apakah anda Ibnu Mu’thi?” “Betul.” jawab orang itu. Ibnu Malik merasa malu kepada beliau. Keesokan harinya, Ibnu Malik menghapus bait yang tidak sempurna itu, dan menggantinya dengan bait lain yang isinya memuji kehebatan Ibnu Mu’thi yaitu:

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

“Beliau (Ibnu Mu’thi) lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau berhak atas sanjunganku yang indah.”

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

“Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.”

Imam Ibnu Malik menghembuskan nafas terakhirnya di Damaskus pada malam Rabu 12 Ramadan tahun 672H dalam usia 75 Tahun.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaManajemen Santri Harus Berdasar Syariah
BerikutnyaPulang ke Desa