Oleh: Almara Sukma Prasintia*

Dalam agama Islam, akhlak merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Akhlak merupakan perhiasan bagi orang muslim, akhlak terbagi menjadi dua yakni akhlak terpuji (akhlak mulia) dan akhlak tercela. Manusia yang akhlaknya paling mulia adalah Rasulullah Saw, sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain mempunyai akhlak yang mulia, Allah SWT juga telah mengutus Nabi Muhammad Saw untuk mendidik umat manusia agar berakhlak mulia:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Dalam agama Islam berbohong termasuk ke dalam akhlak tercela, orang yang berbohong hukumnya berdosa. Lantas, bagaimana jika berbohong untuk kemaslahatan?

Maslahat menurut makna asalnya berarti menarik manfaat atau menolak mudharat (hal-hal yang merugikan). Apabila seseorang berbohong untuk menarik manfaat maka diperbolehkan. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw,

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أُمَّهُ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ وَكَانَتْ مِنْ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ اللَّاتِي بَايَعْنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِي خَيْرًا قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab; Telah mengabarkan kepadaku Humaid bin ‘Abdur Rahman bin ‘Auf bahwa Ibunya Ummu Kultsum bin ‘Uqbah bin Abu Mu’aith -dan ia termasuk perempuan yang turut hijrah dalam kelompok pertama yang berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda:

“Orang yang mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan bukanlah termasuk pendusta.” Ibnu Syihab berkata; ’Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal, yaitu; dusta dalam peperangan, dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dan dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami (untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan).[1]

Yang dimaksud bohong berbohong dalam peperangan yakni, perang dalam membela agama, maka diperbolehkan berbohong untuk menipu musuh, boleh mengeluarkan strategi untuk mengelabui musuh.

Kemudian berbohong untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. Apabila sudah tidak ada jalan lagi untuk mendamaikan orang yang bertikai maka diperbolehkan berbohong.

Terakhir, berbohong suami terhadap istri atau istri terhadap suami untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan. Seperti seorang suami yang memuji masakan istrinya dan mengatakan masakannya enak, pada kenyataannya masakannya tidak enak, hal ini bertujuan untuk menyenangkan hati istri dan menghargai jerih payah istrinya yang telah memasakkan masakan tersebut.

Ketiga perkara tersebut jangan sampai menjadi alasan utama kita untuk berbohong, apabila masih ada cara lain maka jangan menggunakan cara berbohong, hal ini dikarenakan berbohong hukumnya haram dan mendapatkan dosa bagi pelakunya.


[1] HR. Muslim no 2605


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaBagaimana Jika “Muslim Tanpa Masjid?”
BerikutnyaSambut Mahasiswa Baru, Prodi PBA Gelar 3 Agenda Sekaligus