Oleh: Almara*

Kodrat seorang wanita adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Wanita terkadang melahirkan dengan cara normal dan ada juga yang melahirkan dengan cara operasi caesar. Operasi caesar adalah proses persalinan dengan cara menyayat perut Ibu dan rahim Ibu untuk mengeluarkan bayi. Operasi ini dilakukan oleh wanita yang tidak bisa melahirkan secara normal dan dengan anjuran dari dokter.

Mandi merupakan perkara yang diwajibkan untuk wanita melahirkan, meskipun masih berupa segumpal darah (‘alaqah) dan segumpal daging (mudhgah), bila kelahiran tersebut terjadi secara normal (tanpa operasi), dan dengan catatan bahwa menurut dokter, gumpalan itu memang proses bakal bayi. Mandi ini disebut dengan mandi wiladah. Wanita yang setelah melahirkan diwajibkan mandi karena bayi itu berasal dari air sperma yang berproses di dalam rahim ibunya.

Seorang wanita yang melahirkan secara caesar pasti meninggalkan bekas. Biasanya wanita yang selesai melahirkan dengan cara operasi tidak boleh langsung mandi dikarenakan bekas luka setelah operasi belum kering. Bekas luka operasi biasanya kering kurang lebih tujuh sampai sepuluh hari dari hari ia dioperasi.

Apabila mandi wiladah hukumnya wajib, bagaimana dengan wanita yang melahirkan secara caesar dan tidak mengeluarkan darah sama sekali?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Apabila wanita melahirkan dengan cara operasi caesar ada dua pendapat menurut Ulama’ fiqh,

وَلَوْ وَلَدَتْ مِنْ غَيْرِ طَرِيقِهِ الْمُعْتَادِ فَاَلَّذِي يَظْهَرُ وُجُوبُ الْغُسْلِ[1]

[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٢٣٢/١][2]

Pendapat pertama, menurut pendapat yang ashoh (pendapat yang kuat) hukum mandi bagi wanita yang selesai melahirkan baik secara normal atau operasi caesar adalah wajib. Untuk yang operasi caesar tata caranya bisa membasuh anggota badan yang tidak ada bekas operasi.

وَيَنْبَغِي أَنْ يَأْتِيَ فِيهِ مَا تَقَدَّمَ مِنْ التَّفْصِيلِ فِي انْسِدَادِ الْفَرْجِ بَيْنَ الْأَصْلِيِّ وَالْعَارِضِ فَإِنْ كَانَ الِانْسِدَادُ أَصْلِيًّا قِيلَ لَهَا وِلَادَةٌ وَكَانَتْ مُوجِبَةً لِلْغُسْلِ، وَإِلَّا فَلَا؛ لِأَنَّ خُرُوجَ الْوَلَدِ مِنْ جَنْبِهَا مَثَلًا مَعَ انْفِتَاحِ فَرْجِهَا لَا يُسَمَّى وِلَادَةً

[البجيرمي، حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ٢٣٢/١]

Pendapat yang kedua, apabila lahir melalui jalan semestinya maka disebut wiladah dan mewajibkan mandi, apabila keluarnya bayi melalui jalur yang tidak semestinya maka tidak disebut wiladah dan tidak wajib mandi.

Perlu diketahui bahwa kewajiban mandi wiladah atau persalinan itu jika tidak disertai dengan keluarnya darah nifas, apabila jika persalinan itu disertai dengan keluar darah nifas, maka kewajiban mandi wiladahnya menunggu selesai keluarnya darah nifas.

Kesimpulannya pendapat yang ashah mewajibkan untuk mandi, apabila khawatir terhadap luka bekas operasi yang belum kering maka boleh mandi dengan cara membasuh bagian-bagian yang tidak ada luka bekas operasi atau jika dengan cara tersebut masih mengalami kesulitan, maka boleh mengikuti pendapat yang kedua.

[1] Hasyiah Bujairomi Juz. 1, Hal. 232

[2] Ibid Juz.1, Hal  232

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaYuk Simak! 5 Adab terhadap Buku menurut Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari
BerikutnyaFase Twenty Something, Menyambut Hidup Penuh Kejutan