Pengasuh Pondok Pesantren Putri Walisongo, KH. Amir Jamiluddin.

Oleh: KH. Amir Jamiluddin*

الحمد لله اَنعَم عَلينَا بِالاِيْمَانِ والاِسلَام وهَدَانَا بِهِدَايَةِ القُرْآنِ وَفَضَّلَنَا على سَائِر الامَم بافضل نبينا محمد صلى الله علسه وسلم أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. لَئِنْ شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِید


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Allah menyeru dengan kalimat “wahai orang-orang beriman”, yakni orang yang sudah percaya kepada Allah. Iman saja tidak cukup, tapi harus diiringi dengan takwa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pengertian takwa sebagaimana dijelaskan oleh Hujjatul Islam Al-Ghazali, takwa ada tiga:

1) Imtitsal Awamirillah (mengerjakan perintah-perintah-Nya). Seumpama kita salat sudah tidak gremeng-gremeng, tidak merasa berat hati, ikhlas, ringan. Kalau sudah seperti itu berarti sudah melakukan unsur pertama.

2) Ijtinab Nawawahih (menjauhi larangannya). Inilah yang berat, terkadang kita salat lengkap, tapi ngapusi (membohongi) teman, orang tua masih sering.

3) Tanzih al-Qulub ‘an al-Rada’ir (menyucikan hati dari penyakit). Hati ini harus suci dari penyakit dengki, hasud, iri, mangkelan, mengeluh. Nah, mengeluh ini merupakan sifat bawaan manusia atau insan.

Dalam sebuah ayat:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا، اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا، وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh (19) Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah (20) dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir (21)

Bicara soal takwa, perkara ini merupakan perkara pokok dalam urusan keilmuan. Apalagi kita sebagai santri yang belajar ilmu. Syarat agar diberi ilmu oleh Allah harus takwa, seperti tuntunan Al-Quran: وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (takwalah kepada Allah, niscaya akan diberi ilmu oleh-Nya. Sungguh Allah maha mengetahui segala sesuatu).

Takut kepada Allah salah satu caranya adalah dengan menghilangkan rasa ego dan sombong. Karena lantaran kesombongan seorang manusia akan diturunkan derajatnya di titik terendah, layaknya Iblis.

Iblis itu mahkluk yang sudah puluhan tahun—ada yang mengatakan 80 tahun—beribadah kepada Allah. Disuruh menghormat kepada Nabi Adam tidak mau, karena ada rasa sombongnya, khalaqtani min nar, wa khalaqtahu min thin. Karena penolakan dan kesombongan seorang makhluk, maka derajatnya akan turun.

Dalam sejarah yang terkemuka, Imam Ibn Malik dari Andalusia (Spanyol) teman Imam Syatibi. Beliau pernah punya gagasan besar membuat 1000 nazam. Karena ada sedikit rasa lebih baik dari gurunya—Ibnu Mu’thi—keilmuan Ibn Malik lenyap begitu saja.

Setelah merasa bersalah, keilmuan Ibnu Malik kembali pulih. Sebab bagaimanapun juga, Ibnu Mu’thi adalah seorang guru. Oleh karena itu, jangan sampai kita meremehkan guru-guru kita, meski guru MI, TK, dan TPQ.

Alfiyah merupakan satu dari sekian kitab-kitab ulama salaf dulu diajarkan di Madrasah Aliyah Tebuireng. Ada banyak karya ulama Indonesia yang sering dikaji, seperti Manhaj al-Dzaw al-Nadzr, syarah Alfiyah Imam Suyuthi. Hal itu perlu dikaji lagi di Tebuireng, supaya citra keilmuan salafnya tetap memancar.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa. Dengan takwa kita juga akan dipermudah mendapat rezeki dari Allah SWT wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

SebelumnyaSelain HAM, Jangan Lupa Wajib Asasi Manusia
BerikutnyaSurat Kepergian