Oleh: Dimas Setyawan*

Pada tahun 1942 Jombang adalah daerah  yang sangat bergolak. Terutama di kawasan Tebuireng, tempat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengajar dan membina santrinya di Pesantren Tebuireng.

Periode ini direkam oleh sejarah, sebagai awal pendudukan Jepang mendarat di Indonesia, tepatnya tahun 1942 juga, Pesantren Tebuireng dibubarkan oleh bala tentara Jepang, karna menolak segala bentuk penjajahan di Indonesia dan akhirnya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dijebloskan ke penjara.

KH. A. Wahid Hasyim putra dari Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari yang saat itu tinggal di Pesantren Tebuireng selang 10 hari baru saja usai melangsungkan pernikahannya dengan Nyai. Sholihah, putri dari KH. Bisri Syansuri yang juga salah seorang santri dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim, terpaksa kembali ke Denanyar untuk mengamankan istri dan kedua putranya yang masih kecil, yakni Abdurahman Ad-Dakhil (Gus Dur) dan Aisyah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Nyai. Sholichah ketika itu sedang memasuki masa hamil tua. Sementara KH. A. Wahid Hasyim harus mondar-mandir ke Jakarta, untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh pergerakan di Jakarta, dan mengupayakan pembebasan ayahandanya dari penjara di Surabaya.

Ketika pindah ke Denanyar itu, Nyai. Sholichah melahirkan putra ketiganya, 11 September 1942, yang diberi nama Salahuddin Al Ayyubi atau kelak lebih akrab dipanggil dengan sebutan Gus Sholah.

Setelah 4 bulan lamanya berusaha, pada Kamis 18 Agustus 1942, KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Wahab Hasbullah berhasil membawa pulang Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari dari penjara. Kandungan Nyai. Sholihah makin membesar. Tetapi kondisi Pesantren Tebuireng masih sangat mencekam. KH. A. Wahid Hasyim mengisyaratkan agar putra ketiganya dilahirkan di Denanyar, sebagaimana putra pertamanya, yakni Abdurahman Ad-Dakhil.

Jum’at 11 September 1942, saat posisi matahari hampir tepat digaris khatulistiwa, Nyai. Solichah melahirkan putra ketiganya. Bayi laki-laki yang dilahirkan di musim kemarau akan dan kemarau politik menyelimuti bumi Indonesia ini diberi nama Salahuddin Al Ayyubi.

Sebuah nama yang mengingatkan pada gelar seorang ksatria sekaligus ulama Muslim besar dari Tikrit, Irak pada abad XII dia adalah Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi, sosok pemuda yang berhasil menghidupkan perekonomian dan mengorganisir ulang kekuatan militer Mesir setelah mendapatkan serbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem.

Nama Salahuddin Al Ayyubi seakan menggambarkan suasana batin KH. A. Wahid Hasyim masa itu. Suatu masa dimana umat Islam membutuhkan pemimpin yang kuat, cerdas, dan tangkas, serta mampu menyatukan berbagai kalangan.

Bagi KH. A. Wahid Hasyim, Indonesia kala itu membutuhkan kehadiran sosok seorang seperti Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi, maka beliau memberi nama putra ketiganya dengan menambahkan Al-Ayyubi dengan bermaksud tafaulan, kelak Salahuddin Wahid Al-Ayyubi dapat mempersatukan seluruh lapisan kalangan masyarakat Indonesia.

Tetapi seiring berjalannya waktu, nama Al-Ayyubi yang sebelumnya melekat pada diri Gus Sholah, perlahan menghilang. Sebenarnya tidak ada informasi yang tepat bagaimana nama tersebut hilang. Dan pada menjelang akhir hayat, nama yang lebih kenal di oleh kalangan masyarakat ialah, KH. Salahuddin Wahid atau biasa juga di sapa dengan Gus Sholah.

*Mahasantri Mahad Aly Tebuireng.

SebelumnyaSepucuk Surat Sayyidina Umar kepada Sungai Nil
BerikutnyaHadiah Doa dari Malaikat