Tebuireng.online- “Beli bawang keliru merica, saya ke Jombang dengan membawa cinta. Cintaku untuk Tebuireng tidak seindah surat cinta untuk starla, tapi yakinlah cintaku kepadamu lillahi ta’ala,” ucap pantun dari Gus Miftah disambut tawa dari para peserta pada acara Maulid Nabi di Tebuireng “Sudahi Rebahan, Wujudkan Perubahan”, Sabtu (27/11/2021) pukul 14.00-16.30 WIB. Acara ini diselenggerakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) di Aula Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 3.

“Saya pengen semua yang hadir di sini mulai menatap masa depan kita dengan optimis. Apa bedanya pesimis dengan optimis? Orang optimis itu melihat peluang dalam masalah. Sementara orang yang pesimis melihat masalah dalam peluang. Jadi, seumpamanya saya dikasih minum, minumnya hanya terisi setengah dari gelas, orang yang optimis akan berkata alhamdulillah airnya masih ada setengah. Tapi kalau orang pesimis akan mengatakan airnya tinggal setengah. Nah, pasca pandemi yang sebentar lagi berakhir dengan tentunya tetap menjaga protokol kesehatan. Saya berharap optimisme itu muncul di antara kita semua. Jangan sampai kita membayangkan masa depan yang kemudian justru akan membuat kita insecure, tapi juga jangan membuat kita overconfidence,” jelas Pendiri Pondok Pesantren Ora Aji Sleman, Yogyakarta ini.

“Seperti contoh kasus, saya tanya, kalau seandainya bayangkan anda naik perahu di tengah-tengah sungai perahunya bocor, kemudian disamping perahu tersebut banyak buaya apa yang harus anda lakukan? Rata-rata jawabannya adalah berdoa, pasrah, dan tawakal. Saya jawab salah, itu benar tapi kurang tepat. Bayangkan anda naik perahu di tengah-tengah sungai perahunya bocor kemudian disamping perahu tersebut banyak buaya apa yang harus anda lakukan? Yang harus anda lakukan adalah berhenti membayangkan. Kenapa? Karena saya bilang bayangkan, maka saya mengaku kecemasan adalah ilusi buruk tentang masa depan, dari pada kita membuang waktu untuk cemas lebih baik kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya,” tambah beliau.

Beliau menegaskan, kita harus mempunyai sifat optimis yang besar. Kita diajarkan bahwa antara harapan dan angan-angan itu mempunyai perbedaan. Ibnu Athoilah mengatakan harapan adalah suatu keinginan yang diwujudkan dengan amal dan perbuatan, ada eksekusi, ada aksi untuk mewujudkan apa yang kita mau. Kalau kita punya keinginan tapi tidak ada amal dan perbuatan itu namanya tamanni (angan-angan).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Jadi, kalau ingin jadi orang besar seperti Mas Erick Thohir, ingin jadi orang kaya, belajar tidak mau, bisnis tidak mau, usaha tidak mau, pekerjaannya tidur, begitu bangun buat status Whatsapp ‘akan indah pada waktunya’. Kamu harus bangun, tidurmu terlalu lama, mimpimu terlalu buruk. Pada saat ini mahasiswa berada pada posisi seperti itu. Kalau kita memiliki ar-roja’(harapan) untuk menjadi orang besar ketika ada orang mengatakan mimpimu terlalu besar, katakana kepada mereka bukan mimpiku yang terlalu besar tapi pikiran kalian yang terlalu kecil. Masa depan seseorang itu seperti sekumpulan tempe, tidak ada yang tahu. Dalam kondisi seperti ini kita harus bangkit, kita harus move on dari rebahan. Kenapa move on itu berat? Karena dari SD sampai Perguruan Tinggi yang dipelajari adalah mengingat dan menghafal bukan melupakan. Makannya move on itu merupakan pilihan, gagal move on itu cobaan, dan pura-pura move on itu pencitraan,” ucap keturunan ke-9 Kiai Ageng Hasan Besari ini.

Beliau berharap, kita harus optimis menatap masa depan ini. Ingat, kalau anda melihat orang sukses jangan pernah melihat kesuksesannya saja, tapi lihatlah prosesnya. Kenapa? Karena sukses itu melalui banyak proses bukan melalui banyak protes. Orang yang sukses akan dilirik banyak orang. Saya pernah bertanya kepada Mas Erick Thohir, Mas Erick tau nggak kenapa keringet itu asin? Ia menjawab, kenapa Gus? Karena dalam perjuangan tidak ada yang manis.

“Anak muda harus banyak karya bukan banyak gaya. Para pemuda adalah harapan bangsa, makanya tunjukkan prestasimu dengan karya. Zaman sekarang orang ingin menjadi viral sangatlah gampang. Pesan saya satu, virallah karena prestasi bukan karena sensasi. Apalagi kita masuk era 5.0 yang di situ dibutuhkan kreatifitas, critical thinking (berpikir kritis), dan communication (bahasa yang bagus) agar kita mudah diterima di khayalak umum,” tutup beliau.

Pewarta: Almara Sukma Prasintia

SebelumnyaHarapan Gus Kikin pada Menteri BUMN dan Gus Miftah
BerikutnyaTiga Poin Kunci Kesuksesan Erick Thohir