sumber gambar: femina.com

Oleh: Seto Galih Pratomo*

“Pondok Bobrok
Langgar Bubar
Santri Mati”
Yel-yel di atas selalu diteriakkan oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1948.

Tiga tahun selepas kemerdekaan, waktu itu selepas pembantaian Kiai dan Santri Takeran pada 18 September 1948. Partai Komunis Indonesia (PKI) menargetkan  ke Gontor. Setelah Muso mendeklarasikannya negara Soviet Indonesia di Madiun. Juga Muso membentuk tentara bernamakan Front Demokratik Rakyat (FDR) dan menguasai kekarisedenan Madiun, termasuk Ponorogo.

PKI menyerbu Ponpes Gontor dan terjadi kegentingan di Gontor, dan sebagian santri mengungsi untuk menghindari pembantaian di tempat oleh PKI. Tak tinggal diam, rakyat juga santri yang tergabung dalam Pasukan Hizbullah dan Sabillah terus memantau pergerakan PKI.

Sebelumnya, terjadi percakapan diantara Kiai Gontor dalam menentukan langkah agar terhindar dari pembantaian PKI. KH. Imam Zarkasyi berkata kepada KH. Ahnad Sahal agar meninggalkan pondok sebelum PKI datang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Wis Pak Sahal, panjenengan wae sing budal, ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni, Kiai Gontor yo panjenengan. Aku jogo pondok wae, ora-ora lek dikenali PKI aku iki. (Sudahlah Pak Sahal, anda saja yang berangkat mengungsi dengan santri. PKI taunya Kiai Gontor itu ya anda. Saya jaga pondok saja, PKI juga tidak mengenal saya)”

Mendengar ucapan adik kandungnya, KH. Ahmad Sahal langsung menyanggahnya.

“Ora, dudu aku sing ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Pak Zar, njajal awak mendahno lek mati”.

(Tidak, bukan saya yang mengungsi. Tapi kamu Zar, kamu masih muda, ilmu mu lebih banyak, nantinya pondok juga membutuhkan kamu dibandingkan saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI itu. Ayo Pak Zar, mencoba badan walau sampai mati)”

Akhirnya pada musyawarah yang juga diikuti beberapa santri senior, disepakati bahwa kedua Kiai akan menemani para santri mengungsi ke Trenggalek. Selanjutnya pesantren akan diamanahkan kepada saudara tua beliau berdua yakni KH. Rahmat Soekarto yang juga Lurah desa Gontor.

Tak berselang berapa lama santri dan Kiai Gontor ingin meninggalkan pondok, utusan PKI datang ke Pesantren Gontor untuk mengirimkan surat yang menyatakan bahwa seluruh warga Pesantren Gontor untuk tidak meninggalkan tempat. Jika sampai dilakukan, maka akan terjadi bencana besar kepada mereka.

Menerima surat itu, Kiai Sahal dan Kiai Zarkasyi hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengungsi dan tetap bertahan di pondok. Namun karena ajakan dan desakan para Santri, akhirnya beliau berdua berkenan untuk berangkat mengungsi menemani para Santri.

Setelah para santri dan Kiai Gontor mengungsi, pasukan PKI datang ke Gontor, namun pasukan PKI hanya merusak segala fasilitas pondok karena sudah ditinggal santri dan kiainya. Pasukan PKI juga membakar beberapa kitab tak terkecuali Al Qur’an.

Selanjutnya dalam perjalanan mengungsi ke Trenggalek, ketika melewati Gunung Bayangkaki. Dengan untaian air mata karena meninggalkan pondok tercinta, keluarlah untaian kata dari Kiai Sahal: Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu saknyawane pisan (Korban Harta, Korban Tenaga, Korban Pikiran, bila perlu nyawa sekalian akan aku berikan)

Rombongan Kiai dan Santri Gontor, sempat tertangkap oleh pasukan PKI dan disekap di Sooko (salah satu kecamatan di Ponorogo) dan beberapa santri sempat disiksa.

Syukur, pertolongan Allah segera datang melalui Pasukan Tebuireng yang tergabung dalam Laskar Hizbullah yang dipimpin oleh KH. Abdul Kholiq Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari yang juga Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-5) yang merangsek masuk dan mengusir PKI hingga pasuka PKI berlarian. Dan melarikan kedua pimpinan Gontor tersebut dengan jalan melingkar.

Ketika sampai di kecamatan Jetis, mereka mencapai Gontor melalui desa Tegalsari, sebuah desa yang pernah berdiri pesantren terkenal yang dipimpin KH. Hassan Bessari, pesantren yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Modern Gontor.

Dalam hal ini, tak terlepas dari Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-6, KH. M. Yusuf Hasyim atau yang kerap disapa Pak Ud turut membantu memnyelamatkan para Kiai dan Santri Gontor. Yang juga merupakan anggota Tentara Indonesia berpangkat Letnan Kolonel. Beliau berperan aktif menumpas PKI khususnya di Jawa Timur.

Refrensi:
Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, 2016,Ayat-ayat yang disembelih, Jakarta : Jagat Publising. Hal. 109

SebelumnyaMembaca Sejarah Kekuasaan G30S/PKI
BerikutnyaMerawat Kesaktian Pancasila