Siapa yang tidak mengenal KH. M. Hasyim Asy’ari? tokoh pemersatu umat Islam, bukan hanya itu tokoh ini juga dikenal dengan Hadratussyaikh, sebuah gelar informal seperti kiai,  yang berarti Maha Guru. Pada pengajian yang diselenggarakan baliau tidak sedikit masyarakat yang ikut, bukan hanya satu golongan, tapi berbagai golongan.

Sebelum lahir, tanda kebesaran KH. M. Hasyim Asy’ari sudah diketahui kedua orang tuanya. Ibunya bermimpi melihat bulan purnama jatuh tepat di perutnya. Seketika hatinya berdebar-debar dan sekujur tubuh menggigil.

Selanjutnya ketika KH. M. Hasyim Asy’ari terlahir sang bidan mengampaikan “bahwa dia (KH. M. Hasyim Asy’ari) akan menjadi satu-satunya tokoh di zamannya. Hanya saja kelak dia akan sering menjadi pengantin baru.”

Selain dua hal di atas KH. M. Hasyim Asy’ari, semasa anak-anak, sering kali menjadi kepala, ketua dan dengan sendirinya kawan-kawan sepermainan itu tunduk dan patuh, tidak jarang Ia (KH. M Hasyim Asy ari) melakukan pembelaan terhadap kawannya jika diperlukan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Asupan keilmuan agama yang pertama kali Ia dapatkan dari ayahnya sendiri yang pada saat itu sudah menjadi kiai yang cukup terkemuka. Semua pelajaran diberikan dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya itu, beberapa kitab Ia kaji secara otodidak saat usia 13 tahun.

Memasuki usia 15 tahun, KH. M. Hasyim Asy’ari meminta restu kepada ayahnya hendak menimba ilmu di pondok pesantren lain. Ia pun meninggalkan keluarga, teman sejawat dan saudara-saudaranya. Beberapa pondok menjadi rute perjalanannya, diantaranya: Pondok Pesantren Wonokoyo, Probolinggo, Langitan, Terenggilis Madura, dan masih banyak lagi.

Saking haus akan keilmuan, KH. M. Hasyim Asy’ari tidak berhenti menuntut ilmu dan terus berpindah-pindah dari pesantren ke pesantren. Bersinggahlah Ia ke pondok Kiai Ya’kub Siwalang Panji. Di usia 21 tahun beliau dinikahkan dengan Chadijah atas kehendak gurunya KH. Ya’kub.

Tidak lama setelah menikah KH. Mahammad Hasyim Asy’ari berangkat ke Mekkah bersama istri dan menantunya. Istrinya melahirkan di Mekkah, anak itu diberi nama Abdullah. Namun sang Istri harus meninggal karena sakit yang semakin hari semakin parah.

Baru saja ditinggal 40 hari oleh sang istri,  kini anak semata wayang itu dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Alangkah sedih dan pedih hati KH. Muhammad Hasyim Asy’ari ditinggal dua orang yang sangat dicintainya. “Antan patah, lesung Hilang” begitu kata pepatah.

Kontribusi KH. Hasyim kepada negara ini sudah tak terhitung. Mempersatukan 13 organisasi Islam dimasa pemerintahan Belanda. Hal yang sangat tidak mudah karena dipimpin oleh negara lain. Kini kita sudah merdeka bukan malah bersatu, tapi semakin banyak golongan dari berbagai arah.

Sosok kiai yang tidak hanya dikenal di tempat kelahiran saja. Tapi seluruh dunia tahu siapa KH. M. Hasyim Asy’ari, dikenal kerena berbagai karya tulisnya yang sudah tak terhitung berapa kali cetak. Tokoh yang selalu menjadi perbincangan halayak santri hingga para penjabat dan tokoh diberbagai keilmuan. Tidak hanya mahir dalam keilmuan agama tapi juga sangat pandai dalam bercocok tanam.

Mengajarkan banyak santri hingga kini banyak yang menjadi kiai diberbagai pelosok negeri. Kini KH. Hasyim Asy’ari telah pergi. Tugas kita generasi selanjutnya ialah melanjutkan apa yang menjadi warisannya. Dan yang terpenting kita memanjatkan doa teruntuk bapak umat Islam. Al Fatihah.

Buku yang sangat unik ini ditulis tidak lama setalah kepergian KH. M. Hasyim Asy’ari. Sosok penulis ialah KH. Abdul Karim putra KH. Hasyim dari ibu Nyai Nafiqoh yang memiliki nama pena Akarhanaf. Buku ini juga memiliki settingan 70 tahun lalu. Buku yang sederhana,  namun kaya akan pengatahuan tentang KH. M. Hasyim Asy’ari.

Buku ini wajib dimiliki oleh halayak santri khusunya di pondok pesantren Tebuireng. Agar menjadi bekal cerita untuk masyarakat lebih mengenal siapa KH. M. Hasyim Asy’ari.

Dengan buku ini kita akan percaya diri menceritakan tokoh kebanggan kita semua. Sebuah cacatan santri jika tidak mengenal siapa kiainya sendiri. Segara japri admin Pustaka TBI dan dapatkan diskon…

Buku : Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia
Penulis : Akarhanaf
Penerbit : Pustaka Tebuireng
Halaman : 112 hlm
Peresensi: Wahyu

SebelumnyaApa Itu Gelar Cum Laude Saat Lulus Kuliah?
BerikutnyaKonteks Jihad dalam Membuka Sejarah G30SPKI