Fase Perjalanan Abul Hasan Al-Asy’ari

214
(sumber gambar: http://www.slate.com)

Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari, atau yang masyhur dikenal dengan Abul Hasan, Abul Hasan merupakan kuniah (panggilan kehormatan) yang dinisbahkan kepada beliau. Ayahnya Abu Musa AI-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu merupakan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang banyak meriwayatkan hadits dan terkenal dengan keindahan suaranya dalam membaca Al Quran.

Basrah salah satu kota di Irak adalah tanah kelahiran Abu Hasan pada tahun 260 H (873 M), sejak usia muda ia dikaruniai Allah kecerdasan melebihi umumnya dan pemahaman yang tajam, hal tersebut tdak membuatnya mengabaikan sikap zuhun dan qana’ah yang menempel pada diri Abul Hasan. Yang kemudian banyak kaum muslimin yang menisbatkan diri kepada beliau terutama dalam  masalah akidah.

Sebelum menisbahkan dirinya kepada akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, abul hasan melakukan perjalanan yang panjang. Dibagi menjadi tiga fase perjalanan Abul Hasan;

Fase Pertama

Abu Musa Al-Asy’ari ayahnya merupakan seorang yang mencintai sunah nabi, ia didik dan diarahkan menjadi insan yang berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Namun Allah berkehendak lain Abu Musa Al Asy’ari meninggal saat ia masih muda, sebelum meninggal ayahnya berwasiat supaya ia diasuh oleh Zakariya bin Yahya seorang ulama ahli hadis pada masanya. Setelah ayahnya meninggal ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahhab Al Juba’i seorang tokoh Mu’tazilah yang cukup ternama di masanya, sehingga ia banyak terpengaruh oleh pemikiran ayah tirinya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau banyak mempelajari dan mendalami pemikiran Mu’tazilah, dan menjadi tokoh besar dikalangan Mu’tazilah didukung dengan karya-karyanya yang membela paham Mu’tazilah sehingga ia menjadi Imam Besar Mu’tazilah. Puluhan tahun ia mendalami Mu’tazlah Allah meghendaki kebaikan untuknya. Diusia empat puluh tahun Abul Hasan meningalkan paham Mu’tazilah, ia juga menyampaikan dikhalayak umum seusai pelaksanaan salat Jumat di Masjid Jami’.

Beliau menegaskan, “Di dalam dadaku ada kerancuan terkait tentang permasalahan akidah. Pada suatu malam aku bangun lalu mengerjakan shalat dua rakaat. Kemudian memohon kepada Allah ‘azza wa jalla supaya memberi hidayah kepadaku menuju jalan yang lurus. Setelah itu aku pun tertidur dan bermimpi bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itulah aku mengadukan kepada beliau tentang permasalahan yang sedang aku hadapi. Beliau pun menyatakan,”Wajib bagimu untuk berpegang teguh dengan sunnahku. Saat itulah aku terbangun dari tidurku.”

Dikisahkan pula oleh Ibnu Asakir rahimahullah bahwa beliau menegaskan di hadapan para hadirin, “Wahai sekalian manusia, aku menghilang dari tengah-tengah kalian selama beberapa waktu, karena aku menjumpai beberapa dalil dan belum bisa membedakan antara yang benar dan yang batil. Kemudian aku memohon petunjuk kepada Allah ‘azza wa jalla. Allah pun memberikan petunjuk-Nya supaya aku berlepas diri dari buku-buku yang pernah kutulis. Dengan ini saya tinggalkan semua akidah yang aku yakini, sebagaimana aku menanggalkan bajuku ini.” Sambil beliau menanggalkan bajunya.

Sejak saat itu, beliau mulai merilis berbagai karya tulis yang membantah pemikiran-pemikiran Mu’tazilah. Beliau juga sangat antusias dalam menjelaskan kesesatan Mu’tazilah dalam berbagai forum. Di antara pemikiran Mu’tazilah yang beliau tegaskan kesesatannya di hadapan umum adalah bahwa Al Quran itu makhluk bukan kalamullah, Allah ‘azza wa jalla tidak bisa dilihat dengan pandangan mata di akhirat kelak, dan kesesatan keyakinan Mu’tazilah lainnya.

Beberapa dari yang lain meriwayatkan bahwa faktor pendorong taubatnya Abul Hasan adalah karena para gurunya tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan yang beliau disodorkan. Inilah yang memotivasi beliau untuk mencari kebenaran yang selama ini sangat beliau didambakan.

Fase Kedua

Abu Hasan meninggalkan kota Bashrah menuju kota Baghdad. Beliau memiliki kecondongan kepada pemahaman ulama Ahlus Sunnah. Namun, beliau belum sepenuhnya memeluk madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Saat itu, beliau masih terpengaruh oleh pemikiran Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Orang ini adalah gembong sekte Kullabiyah. lbnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan tentang tokoh Kullabiyah ini, “Dialah yang menulis berbagai kitab yang isinya membantah Jahmiyah, Mu’tazilah, dan kelompok lainnya. Dia termasuk ahli kalam dalam masalah sifat-sifat Allah. Metode yang dia tempuh mendekati metode ahli hadits dan sunnah, namun masih memuat cara–cara yang bid’ah. Karena dia menetapkan sifat dzatiyah (sifat Allah yang selalu melekat pada Dzat-Nya, seperti sifat maha melihat, maha mendengar, maha kuasa, dll) dan menolak sifat ikhtiyariyah (sifat Allah yang berkaitan dengan kehendak-Nya, seperti sifat turun ke langit dunia, berbicara kepada makhluk-Nya, dll) bagi Allah.”

Berkenaan dengan fase kedua ini, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Abul Hasan Al-Asy’ari dahulunya adalah seorang Mu’tazilah. Ketika keluar darinya, dia mengikuti konsep pemikiran akidah Muhammad bin Kullab.”

🤔  Kecintaan Para Ulama dalam Thalabul Ilmi

Dalam Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Al-Asy’ari dan orang-orang semisalnya berada di antara akidah salaf dan Jahmiyah. Mereka mengambil akidah yang shahih dari ulama salaf, namun juga mengambil prinsip-prinsip analogi dari orang-orang Jahmiyah yang dianggap benar. Padahal, itu adalah prinsip-prinsip yang salah.”

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Fase kedua yang dijalani Abul Hasan Al Asy’ari adalah menetapkan tujuh sifat ‘aqliyah (sifat Allah yang masuk di akal) bagi Allah ‘azza wa jalla yaitu Al Hayat, Al Ilmu, Al Qudrah, Al Iradah, As Sam’u, Al Bashar, dan Al Kalam. Tapi di sisi lain, dia menakwilkan (memaknainya dengan keliru) sifat khabariyah (sifat Allah yang datang dalam nash Al-Quran dan sunnah), seperti bahwa Allah memiliki Wajah, Kedua Tangan, Marah, Ridha, Cinta, dan yang semisalnya.”

Adapun akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam Tauhid Asma’ Was Sifat adalah menetapkan seluruh sifat ikhtiyariyah yang Allah dan rasul-Nya tetapkan untuk diri-Nya. Tanga melakukan takyif (menggambarkan atau mengkhayalkannya), tamtsil (menyerupakan dengan sifat makhluk-Nya), tahrif (menyelewengkan maknanya), dan ta’thil (meniadakannya). Misalnya Allah ‘azza wa jalla memiliki sifat istiwa’ di atas Arsy-Nya, Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir, dan sifat yang lainnya. Allah juga mempunyai sifat murka, senang, ridha, dan sifat lainnya yang ditetapkan oleh Rasulullah. Dan seterusnya sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab akidah para ulama.

Fase Ketiga

Abul Hasan  banyak menimba ilmu dari para ulama Ahlus Sunnah. Semisal Al Muhadits Al Musnid Abu Khalifah Al Fadhl Al Jumahi Al Bashri, Al Qadhi Abul Abbas Ahmad bin Suraij Al Baghdadi, dan yang lainnya.

Setelah sekian lama beliau terpengaruh dengan paham Kullabiyah, akhirnya beliau pun sadar dan kembali kepada akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Beliau menisbatkan diri kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau torehkan akidah ini dalam karya tulis beliau yang terakhir yaitu Al-lbanah ‘an Ushulid Diyanah. Beliau mengatakan dalam Muqaddimahnya, “Nabi datang kepada kita dengan membawa sebuah kitab agung. Tidak ada di dalamnya kebatilan sedikit pun. Kitab yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Di dalamnya, Allah ‘azza wa jalla menghimpun ilmu orang-orang terdahulu, dan menyempurnakan berbagai kewajiban agama ini. Itulah jalan Allah yang lurus dan tali-Nya (agama-Nya) yang kuat. Barang siapa berpegang teguh dengannya, dia akan selamat. Siapa raja yang menyelisihinya, maka dia telah sesat, dalam kebodohan dan kebinasaan. Allah ‘azza wa jalla telah menghasung dalam Al Quran supaya kita komitmen terhadap Sunnah Rasul-Nya. Allah ta’ala pun berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kalian kepada Allah.” [Q.S. Al-Hasyr:7].”

Sampai ucapan beliau, “Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan kepada mereka supaya taat kepada Rasul, sebagaimana mereka diperintahkan untuk taat kepada-Nya. Allah juga menyeru mereka supaya berpegang teguh dengan sunnah Nabi-Nya, sebagaimana memerintahkan mereka untuk mengamalkan kitab-Nya. Maka, begitu banyak orang yang diliputi kesengsaraan dan dikuasai syaithan, mereka membuang sunnah-sunnah Nabiyullah di belakang punggung-punggung mereka. Kemudian orangorang tersebut berpaling menuju ajaran nenek moyang mereka, fanatik, dan beragama dengan agama mereka. Mereka menentang dan mengingkari sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk kedustaan mereka atas Allah ta’ala. Sehingga mereka adalah orang-orang yang sesat dan tidak mendapatkan petunjuk.”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa prinsip para pelaku bid’ah dan mengisyaratkan tentang kebatilannya. Beliau mengatakan, “Ada seseorang berkata bahwa engkau telah mengingkari pendapat kelompok Mu’tazilah, Jahmiyah, Haruriyah, Rafidhah (syiah), dan Murji’ah, maka beritahukan kepada kami tentang keyakinan dan agama yang kalian anut? Katakan kepadanya bahwa keyakinan dan agama yang kami peluk adalah berpegang teguh dengan kitab Allah ‘azza wa jalla, sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, tabi’in, dan ahli hadits. Kami berpegang teguh dengannya dan sejalan dengan keyakinan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (Imam Ahmad), semoga Allah mencerahkan wajahnya, mengangkat derajatnya, dan memperbanyak pahalanya. Dan kami menjauhi siapa saja yang menyelisihi pendapatnya. Karena Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang utama dan pemimpin yang sempurna.”

Persaksiannya kembalinya kepada akidah salafus shalih diwakili oleh Imam Ahmad rahimahullah, dan beberapa ulama. Di antaranya adalah Ibnu Katsir rahimahullah, yang dengan tegas menyatakan, “Fase ketiga yang dilalui Abul Hasan adalah menetapkan semua sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla tanpa menganalogikan dan menyamakannya dengan sesuatu pun sebagaimana ini prinsip Ahlus sunnah wal Jama’ah. Demikianlah prinsip yang beliau gariskan dalam kitab Al Ibanah ‘an Ushulud Diyanah yang merupakan karya beliau yang terakhir.”

Demikian halnya Muhibbuddin Al-Khatib rahimahullah beliau berkata, “Abul Hasan Al-Asy’ari termasuk tokoh besar ahli kalam dalam sejarah Islam. Pada awal kehidupannya, dia menganut paham Mu’tazilah, dengan berguru kepada Abu Ali Al-Juba’i. Kemudian Allah memberikan hidayah kepadanya ketika beliau menginjak usia paruh baya dan awal  kematangannya. Beliau mengumumkan taubatnya di hadapan manusia dan membeberkan berbagai kesesatan paham Mu’tazilah. Pada fase ini beliau banyak menulis, berdebat, dan mengajar dengan membantah paham Mu’tazilah berlandaskan metode salaf. Kemudian akhirnya beliau benar-benar kembali kepada akidah salaf dengan menetapkan semua sifat-sifat Allah yang wajib diimani oleh para hamba-Nya dengan berlandaskan pada nash Al Quran dan hadits.

Abu Hasan Al ‘asyari merupakan sosok teladan bagi kita semua, beliau merupakan sosok ulama yang tidak gencar menyampaikan kebenaran dalam perjalanan hidupnya. Allahu a’lam.

Oleh: Nazhatus Zamani (Mahasiswa Unhasy Jombang)

Sumber tulisan: www.KisahIslam.net