Cukup jelas, cara memahami Islam yang berada di Indonesia dengan di Timur Tengah memiliki perbedaan. Bila saja, bangsa Timur Tengah memiliki kemudahan dan kecakapan untuk memahami Al-Qur’an dan hadist.

Kemudahan yang dimaksud itu bisa cukup dengan membaca teks-teks yang telah tertera, maka bagi bangsa-bangsa yang masuk kategori bangsa Ajamiyah (bangsa yang di luar kawasan jazirah Arab, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan lain sebagainya) memiliki kesulitan tersendiri dalam memahami nilai-nilai agama.

Akhirnya hal tersebut berakibat pada perbedaan cara dakwah yang disampaikan oleh masing-masing ulama. Bila ulama daerah Timur Tengah cukup menyampaikan teks-teks keagamaan, maka ulama-ulama di luar jazirah Arab, seperti Indonesia harus melakukan pendekatan secara kontekstual yang selaras dengan keragaman budaya sekitar.

Ambillah contoh, bila di Timur Tengah terdapat seorang yang mencuri uang dengan sejumlah nominal yang cukup besar, maka seorang yang mencuri tersebut akan diganjar oleh hukuman qisas (di potong tangannya). Tetapi bila hukuman potong tangan tersebut diberlakukan di negara Indonesia bagi setiap orang yang mencuri, maka hal itu tidak selaras dengan undang-undang hak asasi manusia yang berada di Indonesia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Praktik dakwah yang dapat diterima oleh masyarakat luas tanpa adanya suatu penolakan, baik bentuk kekerasan atau ancaman,  menjadi tolok ukur kesuksesan penyebaran risalah Islam di Indonesia.

Kedekatan tersebut bisa melalui kultur masyarakat yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama dan juga, kedekatan melalui nilai-nilai budaya yang telah menjadi tradisi di tengah masyakarat.

Pada buku “Khotbah dari Bawah Mimbar” karya Ahmad Khadafi, mengisahkan sosok Gus Mut dan ayahnya bernama Kiai Kholil, yang di tengah-tengah masyarakat kampung melalui obrolan Islam sehari-hari.

Obrolan mengenai keislaman bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, seperti saat di warung kopi, ketika bermain catur, atau saat sedang istirahat setelah melaksanakan kerja bakti desa.

Selain itu juga buku ini menyajikan permasalahan-permasalahan yang sebenarnya cukup berat, dan sering terjadi di tengah-tengah kehidupan masyakarat kita. Tetapi dengan ciamiknya Ahmad Khadafi bisa meringankan permasalahan itu, dengan cara yang santai melalui obrolan-obrolan santai antara para tokoh.

Dari obrolan santai itu, melahirkan suatu ketetapan hukum atau melahirkan suatu kebijakan baru yang tetap berlandaskan pada nilai-nilai agama.

Judul Buku : Khotbah Dari Bawah Mimbar
Penulis : Ahmad Khadafi
Tebal : VII+234 halaman
Penerbit Buku Mojok
Cetakan : Cetakan Pertama, April 2021
ISBN : 9786237284543
Peresensi: Dimas Setyawan

SebelumnyaHadiah Doa dari Malaikat
BerikutnyaBaru Tahu Najis di Baju Setelah Shalat, Bagaimana?