Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, memberikan testimoni dalam Peringatan Haul ke-12 Gus Dur.

Oleh: KH. Abdul Hakim Mahfudz*

Hingga saat ini nama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih tetap harum. Yang memberikan kesan kepada kita bahwa Gus Dur dicintai oleh bangsa ini. Gus Dur telah mengukir cerita indah di dalam kehidupan di dunia ini. Sebagaimana digambarkan dalam sebuah syair.

Tiada satupun di dunia ini yang kekal.
Maka ukir lah cerita indah sebagai kenangan.
Karena dunia memang sebuah cerita.

KH. Abdurrahman Wahid merupakan putra KH. A Wahid Hasyim dan juga merupakan cucu dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini menggambarkan nasab Gus Dur merupakan nasab yang luhur. Yang memiliki ayah dan kakek yang memiliki keluhuran ilmu dan kesalehan perilaku.

Di dalam buku autobiografi yang ditulis oleh Muhammad As’ad Shihab, Gus Dur diabadikan sebagai Wadhi’ Labinah Istiqlal Indonesia, yang berarti peletak dasar kemerdekaan Indonesia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Gus Dur merupakan pejuang yang dengan keluhuran ilmu dan akhlaknya mampu mempersatukan rakyat dan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan.

Wejangan Gus Dur mengenai menjalin ukhuwah bisa kita dapatkan dalam karya-karya beliau semisal al-mawaidh, at-tibyan, muqaddimah Qanun Asasi dan beberapa kitab yang lain.

Nasab mulia adalah anugerah yang luar biasa yang dimiliki oleh Gus Dur. Namun, hal ini semakin menjadi hebat tatkala Gus Dur mampu mengisinya dengan catatan-catatan prestasi yang menonjol.

Akhlak Gus Dur yang bagus, keilmuan yang tinggi sehingga beliau mampu tampil dalam memimpin PBNU, dan bahkan kemudian berlanjut menjadi presiden ke-4 Republik Indonesia.

Perpaduan nasab dan prestasi inilah yang menjadikan Gus Dur yang menjadi sosok yang luar biasa, Gus Dur berhasil mewarisi kemuliaan-kemuliaan leluhurnya, sebutlah warisan yang tentu sangat masyhur dengan kealiman dan jiwa penyabar, penebar ukhuwah, serta kepedulian dan kecintaanya terhadap NKRI yang kita cintai ini.

Gus Dur mewarisi sang kakek dalam memperjuangkan ukhuwah. Sebagai presiden RI yang ke-4, beliau berhasil menggandeng dan mengikat semua elemen Bangsa ini menjadi satu kesatuan rakyat Indonesia.

Maka tiadalah heran pasca wafatnya Gus Dur semua elemen bangsa melaksanakan haul beliau setiap tahun, peziarah makam beliau tiada pernah sepi, baik dari kalangan umat muslim maupun non muslim, semua mencintai dan mengenang beliau sebagai pejuang kemanusiaan.

Dalam bidang keilmuan Gus Dur pun terkenal sebagai sosok yang alim allamah yang memiliki banyak tulisan yang merupakan respons-respons beliau terhadap geliat kehidupan beragama dan berbangsa di Negeri ini. Hal serupa yang sudah menjadi uswah bagi sang Ayah dan sang kakek yang berhasil diteruskan oleh Gus Dur.

Kepemimpinan di NU yang merupakan jamiyah yang didirikan oleh sang kakek bersama para masyaikh yang lain berhasil juga diraih Gus Dur sebagai ketua PBNU. Secara singkat Gus Dur berhasil melestarikan warisan leluhurnya. Ilmu yang tinggi, menebar ukhuwah, dan menjaga bangsa dan Negara Indonesia.

Maka ini menjadi kewajiban bagi kita semua sebagai penerus Gus Dur untuk meneladani dan melestarikan warisan-warisan yang mulia ini.

Meneladani Gus Dur kita harus tekun mengaji dan tekun belajar demi mendapatkan ilmu yang tinggi dan kemudian mengamalkan untuk membangun ukhuwah demi tercapainya persatuan untuk menjadikan Indonesia sebagai baldatun Tayyibatun wa Rabbun ghafur.

*Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang.
**Tulisan ini disampaikan dalam Peringatan Haul ke-12 Gus Dur pada Kamis 30 Desember 2021 yang diselenggarakan di 4 titik, termasuk Pesantren Tebuireng baik secara offline dan online.

pewarta/penulis skrip: Afifah Rusyda

SebelumnyaJalan Lain yang Kita Pilih
BerikutnyaIni Kebiasaan Gus Dur Hingga Dicintai Banyak Orang