Mahasantri foto bersama Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Mudir Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

Tebuireng.online— Dalam Rapat Senat Terbuka dan Wisuda Marhalah Ula VII, Program Studi Hadis dan Ilmu Hadis, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, KH. Nur Hannan sampaikan pesan penting untuk para wisudawan.

“Tantangan kita di masa mendatang tidak mudah. Karena kita sudah memasuki era disrupsi. Salah satu dampaknya adalah digitalisasi di berbagai bidang,” ungkap Yai Hannan mengawali sambutannya, Ahad (5/9).

Baginya, belajar mengajar bisa dilakukan dengan cara daring, tanpa dihadiri guru dan orang tua. Untuk bidang kognitif sangat unggul dalam era ini. Namun, bisa saja era disrupsi bisa mengikis aspek afektif, yang hanya bisa disalurkan melalui guru dan kiai.

Oleh karena hal itu, KH. Nur Hannan berharap mahasantri tidak hanya menguasai ilmu kitab kuning, tapi juga harus memiliki banyak  skill yang dibutuhkan dalam era disrupsi.

Dalam hal keilmuan kita tahu, lanjut Yai Hannan KH. M. Hasyim Asy’ari agak condong untuk melarang mempelajari kitab Durratun Nasyi’in. Tentu karena menurut beliau banyak hadis-hadis bermasalah. Oleh karenanya, mulai hari ini mahasantri dapat melakukan takhrij hadits di  dalamnya. Agar dapat menjadi informasi umum.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Meskipun wisuda kali ini banyak keterbatasan, namun kita tetap bersyukur dan harus menerima hal ini. Pada saat yang berbahagia ini izinkan saya mengucapkan selamat kepada wisudawan wisudawati Marhalah Ula VII,” tutupnya.

Pewarta: Indra

 

 

SebelumnyaMahasantri Harus Menjaga Keutuhan Mata Rantai Keilmuan
Berikutnya48 Mahasantri Diwisuda, Berikut Peraih Nilai Terbaik