Oleh : Qurratul Adawiyah*

Sering kita dengar bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, hingga kita terus mencari kebenaran-kebenaran yang sesungguhnya. Padahal kenyataanya, tulang rusuk laki-laki tidak berkurang. Dan bahkan al-Quran tidak menunjukkan sedikitpun bahwa Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam A.S. sebagai makhluk pertama yang Allah ciptakan di muka bumi ini. Al-Quran hanya menginformasikan:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah perkembangbiakkan laki-lakidan perempuan yang banyak.[1]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Al-Quran tidak menyalahi fakta. Yang menyalahi fakta adalah pemahaman sebagian orang tentang maksud ayat tersebut, yaitu firman Allah SWT: (نفس واحدة ). Jiwa yang satu. Mungkin ada pemahaman bahwa maksud firman-Nya nafs wahidah itu adalah tulang rusuk Nabi Adam atau tulang rusuk laki-laki. Rupanya pendapat yang mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki telah populer di kalangan masyarakat.

Banyak riwayat yang menjelaskan tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk yaitu:

Riwayat pertama tercantum dengan bentuk lafadz yang hakiki (denotatif), yaitu:

 المراة خلقت من ضلع “perempuan tercipta dari tulang rusuk.” Riwayat kedua tercantum dengan bentuk lafadz tasybih (perumpaan), yaitu “المرأة كالضلع “perempuan seperti tulang rusuk.” Pada riwayat  pertam ini tercantum dalam kitab hadis induk kurang lebih terdapat dalam 10 kitab salah satunya dalam kitab Shahih Bukhari.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ»

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW Bersabda: “Berwasiatlah untuk (memperlakukan baik) kaum wanita. Karena perempuan tercipta dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dalam tulang rusuk adalah paling atasnya. Jika kamu ingin meluruskannya, maka kamu akan mematahkannya. Jika kamu membiarkannya, maka ia akan bengkok terus. Karenanya, berwasiatlah untuk (memperlakukan baik) kaum wanita.[2]

Dari riwayat tersebut beberapa orang memahaminya bahwa perempuan tercipta dari sebuah bahan yang bernama tulang rusuk. Namun, setelah manusia mengetahui bahwa tulang rusuk laki-laki utuh tidak ada yang berkurang, maka riwayat tersebut terjadi masalah. Terutama bagi orang-orang yang ingin memahami riwayat tersebut namun tidak membaca riwayat-riwayat lainnya yang menjelaskan maksud dari riwayat pertama. Sedangkan riwayat kedua mengenai hal itu, juga terdapat dalam kitab kurang lebih 9 kitab salah satunya terdapat dalam kitab Shahih Ibn Hibban yaitu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّمَا مَثَلُ الْمَرْأَةِ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَرَدْتَ إِقَامَتَهَا كُسِرَتْ، وَإِنَّ تَسْتَمْتِعْ بِهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ، فَاسْتَمْتِعْ بِهَا عَلَى مَا كَانَ مِنْهَا من عوج”

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: perumpamaan perempuan hanyalah seperti tulang rusuk. Jika kamu hendak meluruskannya, ia akan patah. Jika kamu memanfaatkannya, kamu dapat melakukannya dengan keadaanya yang bengkok. Manfaatkanlah ia sesuai dengan sifatnya yang bengkok.”[3]

Dari riwayat yang kedua ini jelas beda bahwa perempuan tidak diciptakan dari sebuah bahan yang bernama tulang rusuk. Melainkan ia tercipta dengan karakter seperti halnya tulang rusuk. Berdasarkan kaidah ( الواضح يبين غير الواضح) “kalimat yang jelas menjelaskan kalimat yang tidak jelas,” maka dapat dipahami bahwa maksud dari hadis( المرأة خلقت من ضلع)  adalah bahwa perempuan tercipta seperti halnya sifat tulang rusuk.


[1] An-Nisa (4):1

[2] 133 Maktabah Syamilah

[3]487 Shahih Ibn Hibban


Sumber: Cara Benar Memahami Hadis karya KH. Ali Mustafa Yaqub

SebelumnyaGus Yahya, Mari Kita Bangun Gerakan Seperti Gus Dur
BerikutnyaKritik Hadis 72 Bidadari untuk Mujahid