sumber gambar: hadis.ID

Oleh: Achmad Shidiqur Razaq*

Keyakinan terhadap eksistensi jin merupakan bagian dari keimanan ummat islam, sebab Al Qur’an sendiri beberapa kali menyebut nama jin, salah satunya dalam surah.al-Dzaari’aat ayat 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidaklah mencipatakan Jin dan manusia, melainkan untuk menyembahku. (QS. Al – dzari’at : 56)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Mayoritas ulama memahami kata jin di sini sebagai makhluk immateri tak dapat dijangkau panca indra. Di samping itu, perbedaan pandangan mengenai makna jin dalam Al Qur’an tidak terelakkan, terdapat beberapa tokoh yang memahami Jin dengan pemahaman yang berbeda.

Mengingat, kita juga mengenal beberapa tokoh yang cenderung untuk berusaha merasionalisasikan seluruh informasi Al-Qur’an dan membatasi sebisa mungkin wilayah supranatural dari ajaran Islam.

Kendati manusia dan jin berada dalam dimensi yang berbeda, namun terdapat beberapa orang yang diberi anugerah oleh Allah untuk bisa berinteraksi langsung dengan jin, sebagaimana kisah yang sangat masyhur dalam Al Qur’an dialog antara Nabi Sulaiman dan jin ketika hendak memindahkan singgasana Ratu Bilqis.

Dalam kisah lain, Al Qur’an juga menjelaskan tentang Nabi Muhammad SAW mengajar jin, sebagai mana yang termaktub dalam surah Al Ahqaf ayat 29:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِين

Ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan al-Quran, lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (bangsa jin) untuk memberi peringatan. (QS. Al-Ahqaf: 29)

Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwasanya juga terdapat sahabat dari golongan jin, seperti umumnya sahabat, mereka juga menerima pelajaran dari Nabi sebagaimana ayat di atas, lantas dengan demikian bisakah jin meriwayatkan sebuah hadits?

Suatu persoalan yang menarik untuk dikaji, sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab akamul marjan fi ahkamil jan karya badruddin As syibly (w.769 H)

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إبْرَاهِيمَ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ جَابِرٍ الرَّمْلِيُّ. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ طَرِيفٍ. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ، حَدَّثَنِي وَهْبُ بْنُ جَابِرٍ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: خَرَجَ قَوْمٌ يُرِيدُونَ مَكَّةَ، فَأَضَلُّوا الطَّرِيقَ، فَلَمَّا عَايَنُوا الْمَوْتَ، أَوْ كَادُوا أَنْ يَمُوتُوا، لَبِسُوا أَكْفَانَهُمْ، وَتَضَجَّعُوا لِلْمَوْتِ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ جِنِّيٌّ يَتَخَلَّلُ الشَّجَرَ. وَقَالَ أَنَا بَقِيَّةُ النَّفَرِ الَّذِينَ اسْتَمَعُوا عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ «الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ وَدَلِيلُهُ لَا يَخْذُلُهُ» هَذَا الْمَاءُ، وَهَذَا الطَّرِيقُ.

“Dalam riwayat ini dikatakan bahwa suatu ketika, sebuah kaum hendak berangkat ke Makkah, lantas mereka tersesat di tengah jalan hinggah hampir meninggal, merekapun memakai kafan mereka (karena sudah tidak ada harapan untuk bertahan hidup) dan berbaring untuk menunggu takdir kematian.

Tiba tiba keluarlah seorang jin dari sela-sela pohon seraya berkata “aku adalah bagian dari golongan jin yang yang belajar kepada Muhammad aku mendengar sebuah riwayat dari beliau : “seorang mu’min adalah saudara mu’min yang lain, memberi petunjuk dan tidak membiarkan saudaranya terlantar.” ini air (minumlah) dan ini lah jalannya seraya menunjukkan jalan kepada kaum yang tersesat.”

Hal ini sebenarnya sudah diungkap oleh Imam As suyuthi (W. 911 H) dalam kitab Al Asybah wan nadhoir:

السَّابِعُ: فِي رِوَايَةِ الْجِنِّ لِلْحَدِيثِ: أَوْرَدَ فِيهِ صَاحِبُ آكَامِ الْمَرْجَانِ آثَارًا مِمَّا رَوَوْهُ، فَكَأَنَّهُ رَأَى بِذَلِكَ قَبُولَ رِوَايَتِهِمْ. وَاَلَّذِي أَقُولُ: إنَّ الْكَلَامَ فِي مَقَامَيْنِ: رِوَايَتُهُمْ عَنْ الْإِنْسِ، وَرِوَايَةُ الْإِنْسِ عَنْهُمْ. فَأَمَّا الْأَوَّل: فَلَا شَكَّ فِي جَوَازِ رِوَايَتِهِمْ عَنْ الْإِنْسِ مَا سَمِعُوهُ مِنْهُمْ، أَوْ قُرِئَ عَلَيْهِمْ وَهُمْ يَسْمَعُونَ، سَوَاءٌ عَلِمَ الْإِنْسِيُّ بِحُضُورِهِمْ أَمْ لَا، وَكَذَا إذَا أَجَازَ الشَّيْخ مَنْ حَضَرَ، أَوْ سَمِعَ، دَخَلُوا فِي إجَازَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ، كَمَا فِي نَظِيرِ ذَلِكَ مِنْ الْإِنْسِ. وَأَمَّا رِوَايَةُ الْإِنْسِ عَنْهُمْ. فَالظَّاهِرُ: مَنْعُهَا، لِعَدَمِ حُصُولِ الثِّقَةِ بِعَدَالَتِهِمْ وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ «يُوشِكُ أَنْ تَخْرُجَ شَيَاطِينُ كَانَ أَوْثَقَهَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُد، فَيَقُولُونَ حَدَّثَنَا وَأَخْبَرَنَا»

[السيوطي ,الأشباه والنظائر للسيوطي ,page 259]

 

As Suyuthi mengklsifikasi permasalah riwayat hadits jin menjadi dua, yakni jin meriwayatkan hadits dari manusia dan manusia meriwayatkan hadits dari jin. Untuk yang pertama (jin meriwayatkan hadits dari manusia) beliau dengan tanpa ragu-ragu menyatakan bahwa hal tersebut boleh. Sedangkan untuk yang kedua (manusia meriwayatkan hadits dari jin) beliau menyatakan tidak diperbolehkan karena tidak ditemukan ketsiqohan dan keadilan jin dalam masalah ini.

Oleh karena itu, jarang sekali kita jumpai riwayat hadits dari jin dalam kitab-kitab hadis, meskipun dalam daftar kitab Rijal Hadis, nama-nama jin dapat kita jumpai dengan mudah.

Kisah-kisah yang disampaikan oleh para ulama hadis dalam kitab mereka juga tidak ada yang berkenaan dengan hadis yang bersumber dari Nabi, melainkan pada umumnya berisi kisah-kisah dialogis di antara mereka, seperti saling bertegur sapa mengucapkan salam. Wallahu a’lam

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Sumber Kitab:
*Al asybah wan Nadzoir: karya as Suyuthi
**Akamil Marjan fi ahkamil Jan: karya Badruddin As syibli

SebelumnyaKisah Para Wanita Luar Biasa yang Melangit
BerikutnyaMenguak Alasan Kang Maman Menjadi Penulis