Tebuireng.online– Berbicara pengalaman, tentu membutuhkan teknik khusus agar dapat menjadi Pop Culture dalam sebuah tulisan, sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Cerita pribadi akan menarik jika diramu dengan kombinasi rasa, data, dan logika. Itulah yang disampaikan penulis novel Mega Best Seller, Negeri 5 Menara, A Fuadi pada peserta webinar dan bedah buku Gebyar Literasi Tebuireng, Ahad (10/10).

Termasuk cerita pribadi A. Fuadi yang dituangkan menjadi sebuah novel Negeri 5 Menara. Hingga kemudian menjadi sebuah film hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah terbit. Salah take film yang membuat dirinya bertanya-tanya adalah ketika shoot di Gontor yang pada waktu itu mengerahkan ribuah santri menjadi figuran.

Dalam kisahnya, para santri kelihatan senang masuk film, meski hanya pakai sarung dan berkopiah. Dengan riuhnya kru film yang berjumlah 40 rombongan mobil. A. Fuadi heran, apa yang membuat keributan seperti ini? “dan hal itu dimulai dengan satu huruf, kemudian menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi bab, bab menjadi buku,” ungkapnya.

Bagi penulis yang sudah ke 55 negara itu, tulisan itu ibarat sebuah bangunan, terbentuk dari atap, tembok, pintu, lantai, dan lain sebagainya. Tapi yang sering dilupakan adalah bangunan pasti ada pondasi, dan pondasi dari sebuah yakni hati.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Dari situ timbul pertanyaan besar yang harus dijawab, Why, mengapa kita menulis. Kemudian What, apa yang membuat kita terus menerus ingin membahas tema sebuah tulisan. Kemudian How, ini adalah soal teknik dan hal itu adalah hal yang bisa dipelajari,” singkatnya membagikan tips menulis.

Fuadi mengaku dirinya merasa tidak berbakat menulis, tapi ia siap untuk menulis dan mempelajari tekniknya.

“Jadi, bagi kita yang merasa tidak berbakat, langkah awal adalah hal pertama (Why), kedua (What) tadi didalami dengan matang. Sebab kedua pondasi tersebut tidak punya teknik tersendiri, hanya bisa kita lakukan secara langsung. Selanjutnya, When (kapan), ini pendekatakn terakhir,” imbuhnya meyakinkan.

Salah satu masalah dalam menulis cerita adalah seringnya stagnan di tengah cerita. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah mundur ke proses belakang. Apakah nanti ada hal yang kurang dalam riset, bahan bacaaan, dan lainnya lagi. Lalu terkadang ketika menulis tiba-tiba muncul sebuah ide baru.

“Nah, kalau memungkin ide tersebut dilebuh dalam ide awal kita, bisa dituliskan dalam bab tersendiri. Namun, kalau tidak memungkinkan, kita bikin mind map baru, setelahnya suatu saat kita akan mewujudkan ide tersebut tanpa mengganggu ide pertama kita,” pria alumnus Gontor itu memberi trik menulis.

Bagi A Fuadi menulis tentang pengalaman itu adalah hal yang bisa jadi bagi orang lain sangat luar biasa bahkan istimewa, sehingga Ia berpesan pada forum untuk tidak lagi berpikir ide kita biasa-biasa saja.

“Barangkali bagi kita yang biasa akan menjadi luar biasa bagi orang lain,” terangnya.

Pewarta: Indra Yuniar

SebelumnyaIni Pesan Moeldoko Saat Mukernas BEM Pesantren di Indramayu
BerikutnyaMengenal Lebih Dekat Literasi Digital Pesantren