Oleh: Almara*

Masa iddah hanya berlaku pada perempuan, laki-laki tidak mempunyai masa iddah. Iddah menurut bahasa berasal dari isim masdar yang fi’il madhinya i’tadda اعتد . Sedangkan menurut syara’ iddah adalah penantian seorang perempuan dalam suatu masa yang terhitung dari waktu di mana wanita mengetahui kosongnya rahim yang diketahui dengan kelahiran, hitungan bulan, atau perhitungan beberapa sucian (quru’).

Masa iddah secara umum adalah waktu menunggu seorang wanita setelah ia berpisah dengan suaminya, baik berpisah karena suaminya meninggal atau berpisah karena cerai.

Perempuan yang mengalami masa iddah ada dua macam, yaitu:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Perempuan yang ditinggal mati suaminya

Perempuan yang ditinggal mati suaminya apabila ia merupakan perempuan yang merdeka (bukan budak) dan dalam keadaan hamil maka, masa iddahnya adalah dengan melahirkan kandungannya secara keseluruhan. Yang dimaksud kandungan di sini adalah kandungan yang dinisbatkan kepada suaminya yang sudah meninggal.

Apabila perempuan yang ditinggal mati suaminya dalam kondisi tidak hamil maka masa iddahnya 4 bulan 10 hari.

Budak hanya ada pada zaman Rasulullah Saw., pada zaman sekarang sudah tidak ada perbudakan, jadi semua wanita bisa dibilang merdeka.

Perempuan yang tidak ditinggal mati suaminya

Apabila perempuan tersebut dalam kondisi hamil, maka masa iddahnya dengan melahirkan kandungan yang memang dinisbatkan kepada suaminya.

Apabila perempuan tersebut tidak dalam keadaan hamil dan termasuk perempuan yang belum menopause (masih bisa menstruasi) maka iddahnya adalah 3 kali masa suci.

Apabila perempuan yang diceraikan dalam keadaan suci, dalam artian ketika ia diceraikan masih ada sisa masa sucinya, maka masa iddahnya habis dengan memasuki haid ke-3. Atau perempuan yang diceraikan ketika dalam keadaan haid atau nifas maka masa iddahnya habis memasuki haid ke-4.

Apabila perempuan yang diceraikan masih kecil atau sudah besar yang sama sekali belum pernah mengeluarkan darah haid dan belum berumur menopause atau dia adalah wanita yang sedang mengalami mutahayyirah (bingung akan haidl dan sucinya) dan perempuan yang sudah menopause, maka iddahnya adalah 3 bulan menurut penanggalan Qomariyah, jika bercerainya tepat pada awal bulan.

Jika perempuan tersebut bercerai pada pertengahan bulan, maka sehabisnya bulan itu ada dua penanggalan (yang harus dilalui). Dan bulan yang pecah disempurnakan menjadi 30 hari dari bulan keempat.

Jika perempuan yang menjalani masa iddah itu mengalami haid dalam beberapa bulan, maka kewajiban menjalani iddah baginya adalah dengan beberapa masa sucian. Apabila haidnya setelah melewati beberapa bulan dalam iddah, maka tidak wajib menjalani (hitungan) sucian. Semisal ada wanita yang haidnya lama, 5 bulan sekali, maka ia tidak perlu menunggu 3 kali sucian, kalau saja ia harus menunggu 3 kali suci, maka perlu waktu yang lama sekitar 15 bulan. Dalam kasus ini dia cukup menunggu 3 bulan saja.

Adapun perempuan yang bercerai sebelum dijima’, maka tidak ada iddah baginya. Baik si suami sudah menggauli dalam bagian selain farji aau belum.


Sumber: Fathul Qorib


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaTebuireng Ngaji Matematika Bersama Gernastastaka & NU Circle
BerikutnyaDuta Besar Jepang Kenji Kanasugi Kunjungi Pesantren Tebuireng