gerakan sholat_yogi

Oleh: Almara Sukma*

Shalat secara bahasa adalah doa. Shalat secara syara’ menurut Imam Ar-Rofi’i adalah ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang disertai dengan syarat-syarat tertentu.

Shalat hukumnya wajib bagi umat Islam yang sudah baligh dan berakal. Apabila ada orang beragama Islam, sudah baligh akan tetapi ia gila, maka gugurlah kewajiban shalat. Shalat wajib ada lima yaitu zuhur, asar, magrib, isya’, dan subuh.

Shalat memiliki syarat dan rukun. Syarat menurut bahasa berarti tanda. Syarat menurut syara’ adalah perkara yang menjadikan sah shalat bergantung padanya, namun bukan bagian dari shalat. Berbeda dengan rukun, sebab rukun merupakan bagian dari shalat. Adapun syarat-syarat shalat sebelum masuk dalam sholat ada 5:

Pertama, sucinya tubuh dari hadas kecil dan besar jika mampu. Bersuci bisa dilakukan dengan menggunakan air atau debu. Apabila tidak menemukan air atau debu untuk bersuci, tetap boleh melaksanakan shalat dan shalatnya sah, tetapi wajib untuk mengulangi di waktu lain setelah bisa bersuci dengan sempurna. Tubuh harus suci dari najis yang tidak ma’fu (dimaafkan) baik badan, pakaian maupun tempat shalat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kedua, menutup aurat jika mampu, meskipun sedang sendirian dan berada di tempat gelap. Apabila tidak mampu menutup aurat ia diperbolehkan shalat telanjang akan tetapi tidak boleh melakukan ruku’ dan sujud dengan isyarat, tapi harus menyempurnakan keduanya dan tidak ada kewajiban mengulangi shalatnya. Menutup pakaian harus menggunakan pakaian yang suci. Selain dalam shalat menutup aurat dari pandangan orang lain hukumya juga wajib. Sedang hukum menutup aurat dari diri sendiri tidak wajib, namun makruh hukumnya melihat pada aurat diri sendiri.

Ketiga, melaksanakan shalat di tempat yang suci. Tidak sah shalat seseorang yang badan atau pakaiannya tersentuh najis, baik saat berdiri, ruku’, duduk, atau sujud.

Keempat, mengetahui masuknya waktu shalat atau memiliki persangkaan akan masuknya waktu shalat dengan cara berijtihad (berusaha mencari tahu). Apabila melakukan shalat tanpa mengetahui waktu shalat, maka shalatnya tidak sah meskipun sebenarnya tepat waktu.

Kelima, menghadap kiblat, maksudnya menghadap Ka’bah. Ka’bah dinamakan kiblat dikarenakan orang yang shalat menghadap ke Ka’bah. Menghadap persis ke bangunan fisik Ka’bah tentu mudah bagi orang-orang yang berada di Masjidil Haram dan sekitarnya. Tapi tidak demikian bagi orang-orang yang berada di luar Arab Saudi.

Mayoritas madzhab fiqih berpandangan bahwa umat Islam cukup menghadap arah kiblat (jihah) tidak harus persis ke bangunan Ka’bah. Namun, ulama dari kalangan madzhab Syafi’i, Abdurrahman Ba’alawi, dalam Bughyah al-Mustarsyidin berpendapat boleh sekadar menghadap arah Ka’bah (jihatul ka’bah) bila seseorang tidak mengetahui tanda-tanda letak geografis persis Ka’bah.

Seseorang boleh shalat tidak menghadap kiblat dalam dua keadaan: Saat ketakutan yang sangat dan saat melaksanakan sholat sunnah dalam perjalanan di atas kendaraan. Musafir dengan bepergian yang mubah meskipun jaraknya dekat boleh melaksanakan shalat sunnah dengan menghadap tempat tujuannya.

Dari kesimpulan di atas bisa diketahui bahwa orang yang shalatnya tidak memenuhi lima syarat di atas maka hukum shalatnya tidak sah.

Bagaimana dengan orang yang shalat setelah selesai shalat baru tahu kalau terdapat najis di salah satu bagian bajunya? Apakah hukumnya sama?

Orang tersebut wajib mengulangi shalatnya, karena suci dari najis merupakan syarat sah shalat. Meskipun ia mengetahui bahwa pakaiannya najis setelah shalat. Berbeda halnya apabila orang tersebut tidak mengetahui bahwa pakainnya terkena najis.

Seperti contoh Ahmad sedang melakukan shalat, setelah selesai salam ia baru mengetahui bahwa di salah satu bagian bajunya terdapat najis, maka Ahmad wajib mengulangi shalat tersebut, karena suci dari najis adalah syarat sah shalat. Shalat yang dilakukan Ahmad tidak sah karena di salah satu bagian bajunya terdapat najis.

Agar kejadian Ahmad tidak terjadi kepada kita hendaknya sebelum shalat kita memeriksa semuanya baik badan, pakaian atau tempat untuk shalat. Apabila semua sudah aman, barulah kita shalat.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaDakwah yang Terselubung
BerikutnyaPondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Terima Bantuan Oksigen Konsentrator