Kuntowijoyo sebagai salah satu sosok sastrawan yang masyhur juga dengan kemahirannya dalam sejarah, sehingga dalam berkarya hampir selalu menjadikan Islam sebagai fundamen gagasannya.

Ia cukup konsisten merujuk ajaran-ajaran Islam, terutama Al Quran, sebagai dasar analisis terhadap peristiwa sejarah maupun masalah sosial yang diamatinya.

Menurut Dawam Rahardjo, apa yang dilakukan Kuntowijoyo itu penting untuk mengimbangi paradigma orientalisme sarjana-sarjana Barat. Tak heran bila Wan Anwar dalam buku Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya (2007) memuji demikian:

“Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam.” (hlm. 4)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Secara keseluruhan, buku ini menjelaskan mengenai agama, politik, dan budaya dalam lingkup keislaman di Indonesia abad ini. Tapi resensi ini memfokuskan pada bagian Esai Agama yang juga berisikan masalah-masalah dikalangan umat Islam terutama organisasi masyarakat atau organisasi Islam, mahasiswa dan pemimpin di negara ini.

Bagian Esai Agama diawali dengan pembahasan mengenai ulama atau kiai maupun cendekiawan yang ‘berbeda fungsi’ disetiap perubahan zaman, perbedaan daerah atau kalangan, sampai cara atau media penyampaian dakwahnya. Kemudian penegasan terhadap ormas bahwa ormas (organisasi masyarakat) bukanlah orpol (organisasi politik). Dan masalah mahasiswa yang ke-Islamannya dipertanyakan.

Judul buku ini dipakai Kuntowijoyo untuk menggambarkan fenomena kebangkitan generasi muslim perkotaan yang memiliki perhatian terhadap agamanya, tapi tidak sempat mempelajari Islam secara utuh (kafah).

Mereka belajar Islam tidak lewat jalur konvensional, semisal, surau, madrasah, atau perguruan tinggi Islam. Namun, melalui media sosial yang serbaselintas, tergesa-gesa, dan cenderung reduktif, mendiskusikan tema-tema keagamaan bukan melalui kitab kuning dan pengkajian memadai, tapi cukup lewat status seorang ‘tokoh’ yang kemudian saling dikomentari satu dan lainnya.

Buku ini sangat menarik untuk dipelajari karena berisi realita kehidupan beragama dan sejarah perkembangan politik dan budaya serta kepemimpinan dan peristiwa yang mempengaruhi masa-masa orde di Indonesia. Menurut saya penulis sangat handal dalam mengemas tujuannya agar diterima pembaca dalam segi sejarah maupun bidang ilmu lainnya.

Tetapi, buku ini agak sulit dicerna oleh orang-orang yang kurang tau banyak soal ormas dan kurang mengikuti sejarah. Sebab disini pembaca seperti diajak untuk flash back ke masa lalu dan sedikitnya melihat kejanggalan yang ada pada peristiwa tersebut.

Tapi sekali lagi, jika kita tidak pernah membaca dan terjun kedalamnya, kita hanya akan stop dititik itu, jadi tidak ada salahnya untuk mencoba hal baru meskipun kita sadar kemampuan kita tidak pada batasan tersebut. Selamat membaca!

Judul buku: Muslim Tanpa Masjid
Penulis: Prof. Dr. Kuntowijoyo
Tebal: 452 halaman
Penerbit: IRCiSoD
Cetakan: Pertama, Juli 2018
Peresensi: Farhan Ishaqi

SebelumnyaIkuti Festival Mahrest, Rebut Hadiah Total 60 Juta!
BerikutnyaKetahui! Tiga Kebohongan yang Ditolerir Hadis Nabi