Oleh: Nur Indah*

Di masa saat ini, songkok (peci hitam bludru) telah menjadi identitas nasional dan tidak hanya sebagai identifikasi sebagai muslim saja. Bagaimana tidak? Tidak jarang kita temukan para pejabat non-Islam juga kerap menggunakan songkok tersebut. Simbol identitas ini, semakin populer manakala dipromosikan oleh Bung Karno, sehingga menjadi masyhur dalam pergaulan internasional, hingga saat ini, masyarakat Mesir apabila melihat wajah Melayu memakai peci hitam akan memanggil “Ahmed Sukarno.. Ahmed Sukarno”, tidak hanya di Mesir, begitu juga di Uzbekistan, sebuah negara yang sangat menghormati jasa Soekarno sebagai seseorang yang berperan penting di balik renovasi makam Imam Bukhori. “Ahmed Zu Kar Nu” demikianlah pengucapan masyarakat Uzbekistan dalam melafalkan nama Bung Karno dengan penuh hormat.

Dalam sebuagh rapat (vergadering) Jong Java pada Juni 1921 yang dihadari tokoh-tokoh nasional, Soekarno yang saat itu berusia 20 tahun mengamati kawan-kawanya yang enggan memakai penutup kepala dan hendak meniru gaya penjajah Barat. Sebagai bangsa yang sudah mulai menyadari arti penting kemerdekaan, tentu saja Indonesia harus memiliki simbol-simbol pemersatu. Dalam kondisi seperti itulah Soekarno membangun argumentasi dan menjadikan peci sebagai simbol identitas bangsa dan pergerakan nasional. Menurut Soekarno, peci adalah tutup kepala yang banyak dipakai oleh buruh di Semenanjung Melayu.

Terdapat salah satu ungkapan Soekarno saat berorasi di rapat Jong Java. Dalam sebuah perjuangannya yang memang identik dengan mengangkat harkat dan derajat bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa – bangsa lain di dunia. “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia merdeka”. Sejak saat itulah Soekarno dalam setiap penampilanya identik dengan peci bludru hitam yang kemudian dikombinasikan dengan seperangkat baju dinas seperti, jas dan dasi sebagai simbol kesamaan derajat antara bangsa terperintah dengan bangsa yang memerintah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, Soekarno sendiri bukanlah tokoh pergerakan pertama yang mengenakan dan mempopulerkan peci beludru berwarna hitam, yang pertamakali mengenakan dan mempopulerkan peci bludru berwarna hitam, dalam sebuah foto bertarikh 1913, jauh sebelum orasi Bung Karno di Jong Java yang legendaris itu. Dalam foto tersebut, nampak 6 orang memakai setelan jas hitam, berdasi, dan bersepatu. Tiga orang berdiri di belakang, tiga orang lagi duduk dengan elegan. Duduk di sebelah kanan Soewardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara, di tengah bernama E.F.E. Douwes Dekker, dan dr. Tjipto Mangunkusumo berada di posisi sebelah kiri.

Foto tersebut dibuat sesaat setelah 3 serangkai itu diasingkan dari Hindia Belanda, tepatnya ketika mereka diundang rapat SDAP (De Sociaal Democratische Arbeiderspartij) partai Buruh Sosial Demokrat di Den Haag. Ketiganya menunjukkan identitas masing-masing. Ki Hajar mengenakan topi fez Turki berwarna merah yang kala itu populer di kalangan nasionalis karena pengaruh revolusi kaum sekuler di Turki. Douwes Dekker memilih tampil tanpa penutup kepala, sedangkan  Dr. Tjipto mengenakan songkok hitam.

Sebelum era Bung Karno, aktivis Sarekat Islam (SI) mulai banyak memakai songkok hitam. Dalam foto bertarikh 1915 dan 1921, aktivis Sarekat Islam mayoritas memang memakai blangkon, namun satu-dua orang sudah berpeci hitam. Pengurus awal Muhammadiyah masih memakai blangkon, sebagian juga menggunakan surban tipis seperti yang dipakai KH. Ahmad Dahlan.

Uniknya, meskipun saat ini songkok juga menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas santri, namun manakala kita melacak foto tahun 1920-an, tampak bahwa kaum santri masih memakai blangkon, sebagaimana tampak dalam foto masa muda Abdul Wahid Hasyim, putra KH. Hasyim Asy’ari, sekitar 1928.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKesulitan dalam Meninggalkan Maksiat? Bacalah Doa Ini…
BerikutnyaSiap Tarik Pengunjung, Pesantren Tebuireng Menggelar Workshop Pengelolaan Museum