Oleh: Adawiyah*

Banyak yang mengira pola kesuksesan terbatas karena lingkungan yang tidak mendukung, modal tidak cukup, kurang ilmu dan lain-lain. padahal sebelum membahas faktor eksternal, ada yang lebih penting dari pada itu semua, yaitu urusan dengan diri sendiri. Semua berawal dari kutipan “love your self, dulu saya untuk menjadi diri sendiri saja sulit. Karena masa remaja adalah masa yang stabil, maka segala hal ingin anda kuasai. “Aku ingin begini, aku ingin begitu, dan ingin seperti yang lainnya”.

Selain itu, anda juga merasa, “Ah orang lain lebih bisa dari saya, pasti saya nggak bisa jadi yang terbaik”. Sebuah pemikiran sederhana yang membuat diri lemah, lemah batin, dan lemah mental. Ternyata berawal dari pikiran kita sendiri. Selalu merasa rendah dan tidak pantas pada diri sendiri. Selain itu, kalau kita tidak menerima diri sendiri, kita akan mudah malu dengan pencapaian yang dilakukan diri sendiri. Bagaimana tidak malu, percaya diri saja susah. Padahal sering kali berekspektasi sangat tinggi, punya impian yang tinggi pula. Tapi lagi-lagi itu, mental kita sendiri yang melemahkan.

Sampai suatu saat anda berada pada titik rendah dan merasa lelah, “Capek nggak sih terus-menerus begini? Tidak ada manfaatnya buat orang lain? Berekspektasi tapi tidak sampai tujuan?. Hanya merasa?  Tentu tidak, seperti penulis lakukan. Saya membaca tentang buku-buku motivasi untuk saya jadikan inspirasi, hingga pada akhirnya saya baca buku yang di dalamnya terdapat firman Allah yang berbunyi:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Ternyata dari ayat tersebut pola pikir atau mindset yang kita jalankan sangatlah salah, sesimple itu pola pikir merubah pola hidup kita. Dari pola pikir merambat ke cara berpikir, dari cara berpikir merambat ke perilaku, dari perilaku merambat ke kebiasaan, dan dari kebiasaan merambat ke karakter. Dari pola pikir membentuk karakter siapa kita, itulah pengaruh pola pikir terhadap kehidupan kita.

Lantas apakah dengan merubah pola pikir langsung saja mengubah hidup anda? Tentu saja jawabannya belum. Karena mengubah pola pikir itu butuh waktu yang lama untuk melatihnya bukan cuma sehari dua hari. Jadi yang saat itu anda lakukan adalah bukan langsung mengubah perilaku anda menjadi diri sendiri. Bukan! Kita lakukan step by step.

Yaitu mulailah dengan ubah pola pikir kita dari yang paling dasar. Karena kalau pondasinya belum kuat, akan mudah goyah. Bertindak tidak sesuai pikiran juga bukan hal yang mudah. So, perbaiki dulu pola pikirnya dengan dengan terus yakin bahwa setiap diri bisa bertumbuh dan berproses dan yang paling terpenting yaitu perbaiki manajeman waktu dengan membuat to do list, konsisten menjaga, serta mulailah dengan menemukan, menerima, memaafkan, dan mencintai diri sendiri.

Selain itu pola pikir juga berpengaruh dengan mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri tiap orang akan berbeda. Karena menghargai diri adalah masalah personal yang mungkin jika diterapkan pada penulis misalnya, belum tentu akan berdampak pada orang lain. Jadi sangat penting mengetahui mana cara yang cocok untuk diri kita sendiri.

Ada mereka yang berpendapat kalau mencintai diri sendiri adalah bukan dengan menjadi orang lain. Ada juga mereka yang mengatakan mencintai dirinya bisa dilakukan dengan merawat diri dan terus memperbaiki diri. Well, pada akhirnya definisi mencintai diri sendiri akan berbeda-beda.

Namun, ada beberapa tips yang bisa kalian lakukan untuk menemukan cara mencintai diri sendiri dengan versi kalian sendiri yaitu:

Ketahui yang kalian sukai

Siapa yang tidak suka melakukan hal yang disukai. Diri akan lebih bahagia dan lega jika melakukan hal yang disukai. Tanpa paksaan. Barangkali dengan melakukan hal yang disukai, kita lebih bisa menjadi diri kita sendiri. Asalkan apa yang kita lakukan tidak membahayakan dan keluar dari syariat, makanya sekarang mulailah tanya pada diri sendiri, kegiatan atau hal apa yang disukai mulailah menjelajah dunia kalian.

Perhatikan kebutuhan diri

Kebutuhan diri adalah kewajiban. Termasuk merawat diri, baik dari segi kesehatan maupun perawatan tubuh. Dan juga semua itu adalah kebutuhan, maka perhatikan juga apa yang menjadi standar kebutuhan kalian. Misalkan saja kalian butuh makanan sehat, perawatan diri yang cukup, olahraga ringan. Selain hal fisik, kalian juga perlu tahu kebutuhan batin, seperti: rasa nyaman, tentram, dicintai, lingkungan yang mendukung dan lain-lain. kalau kalian tahu kebutuhan kalian, maka kalian akan mencoba untuk memenuhinya.

Kurangi konsumsi hal negatif

Seperti yang penulis katakan sebelumnya, kebutuhan rasa batin itu juga diperlukan. Contohnya rasa nyaman, tentram serta lingkungan yang positif dan mendukung. Oleh karenanya jauhilah hal-hal yang semakin membuat kalian down dan terbawa arus kembali menyesali diri. Misalkan banyak teman yang terlalu toxic dan suka membicarakan orang lain. Jauhilah! Kenapa masih suka dengan mereka yang sama sekali tidak mendukung perkembangan kalian? Ganti dengan muraja’ah atau membaca al-Quran atau yang lebih berfaedah, meski terkadang apa yang kita inginkan lebih dari apa yang kita butuhkan.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaTiga Golongan Manusia menurut Al-Quran
BerikutnyaAnal Seks dalam Kacamata Hukum dan Fiqh Islam