Oleh: Quratul Adawiyah*

Dalam sebuah buku karangan Rifa’i Rif’an yang berjudul “Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati”. Di dalamnya terdapat kisah inspiratif tentang pentingnya integritas dalam menjalankan peran kehidupan. Ada seorang ahli kunci yang usianya sudah sangat renta. Ia merasa harus segara mewariskan ilmunya. Ia hendak mewariskan keahliannya itu kepada satu di antara dua murid yang selama beberapa tahun telah didiknya. Untuk memilih salah satu di antara keduanya, sang ahli mengadakan ujian terakhir kepada kedua muridnya.

Sang guru menyiapkan dua kotak yang berisi beragam perhiasan berharga. Kotak itu terkunci digembok yang kuat. Masing-masing murid diberi satu kotak yang mereka belum tahu isi kedua kotak itu. Mereka diuji siapakah di antara mereka yang paling cepat membuka gembok dari kotak tersebut. Kedua murid akhirnya masuk dalam waktu yang bersamaan ke dalam ruangan yang telah disediakan. Tak butuh waktu yang lama, salah satu murid tiba-tiba keluar dari ruangan sambil membawa gemboknya. Sang guru bilang, “Kamu cepat sekali menyelesaikannya, apa isi kotak itu?”. Murid pertama menjawab, “Emas dan permata yang berkilau, guru. Dan harganya tentu sangat mahal”.

Beberapa saat kemudian, murid kedua keluar. Guru pun tanya kepadanya, “Kamu telat muridku, ia bisa menyelesaikan lebih cepat darimu. Oh ya, apa isi kotakmu?”. Murid kedua menjawab dengan lugu, “Maaf guru, saya tidak tahu apa isi dalam kotak itu. Saya kira membuka kotak itu dan melihat isinya bukan termasuk dalam ujian”. Sang guru tersenyum puas dengan jawaban murid kedua. Ia kemudian memilih murid kedua sebagai orang yang akan mewarisi keahliannya sebagai tukang kunci terbaik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Murid pertama protes pada gurunya, “Guru, bagaimana bisa guru memilih dia sebagai penerus guru. Padahal jelas-jelas saja yang bisa membuka grmbok itu lebih cepat ketimbang dia, guru tidak adil”. Sang gurupun menjelaskan dengan bijak, “Muridku, ingatlah, profesi kita adalah seorang tukang kunci. Tugas kita adalah membantu orang untuk membuka gembok yang kuncinya hilang atau rusak. Hanya itu. Sedangkan untuk tahu apa isi kotak itu bukanlah wewenang kita. Bisa jadi isi kotak itu sangat berharga dan rahasia bagi pemiliknya, maka tidak dibenarkan kita menuruti rasa penasaran kita terhadap isi kotak itu. Hanya pemiliknya saja yang berhak tahu isinya. Inilah etika profesi yang harus kita pegang sebagai tukang kunci. Tanpa etika, pekerjaan kita bisa berakibat fatal”.

Namun satu hal yang selama ini banyak dilupakan, bahwa dalam kata profesional sebenarnya melekat tentang tanggung jawab moral, etika dalam menjalankan profesi yang ditekuninya, atau dalam bahasa religi bisa kita kenal sebagai akhlak.

Sayangnya, saat ini profesionalisme telah mengalami penyempitan makna. Pengertian profesional kita dipahami lebih dekat kepada standar bayaran yang tinggi serta penampilan yang mewah. Tak peduli bagaimana moral orang tersebut. Asalkan ia berpenampilan sebagai ahli dan pakar dalam bidangnya, cukuplah baginya memegang sebutan professional.

Padahal hal yang terpenting adalah akhlaknya, semakin tinggi akhlaknya, semakin tinggi pula profesionalisme seseorang. Semakin tinggi seseorang memegang kode etik, makin tinggi pula tingkat profesionalitas orang tersebut. Jadi profesionalisme bukan hanya bersandar pada seberapa ahli kemampuan seseorang menjalani profesi yang ditekuni, tapi yang lebih memegang peranan lebih penting adalah akhlaknya. Bila ada orang punya keahlian tapi miskin moral, maka dia disebut amatir. Artinya tidak terlatih secara penuh sebagai seorang yang professional.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaPesan Moral Maulid Nabi dari Pesantren Tebuireng
BerikutnyaGrup Banjari SMP A. WH Raih Juara Kabupaten