Santri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang, merayakan maulid Nabi Muhammad, (19/10) di halaman pesantren. (foto: ig-putri_walisongo)

Tebuireng.online– Suara santri Walisongo terdengar sangat meriah melantunkan shalawat diba’iyah dengan penuh semangat, merayakan Maulid Nabi Muhammad. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat diba’iyah dipimpin grup banjari El-Khanza Walisongo.

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Walisongo, KH. Amir Jamiluddin hadir memberikan meuidhah hasanah tentang bagaimana mencintai Nabi Muhammad dan memperkenalkan sejarah lahirnya shalawat dhiba’iyah.

“Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada Al-Qur’an, dan tanda cinta kepada Al-Qur’an adalah cinta Rasulullah, dan cara cinta kepada Rasulullah adalah mencintai sunnah-sunnahnya,” terang dosen Unhasy ini, (19/10).

Menurut Gus Jamil, tanda cinta kepada sunnah Nabi Muhammad adalah mengikuti sunnahnya. Adapun cara mengikuti sunnahnya adalah dengan mencintai akhirat.

Selain menjelaskan tentang cara mencintai Nabi, Gus Jamil juga membeberkan sejarah kelahiran shalawat dhiba’iyah yang sedang dibaca oleh para santri untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Maulid Diba’iyah merupakan karangan seorang ulama dari Yaman, Ibnu Abi Daiba’. Beliau menyusun itu untuk menerangkan sirah Rasulullah secara singkat,” tutur Gus Jamil.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad diikuti oleh seluruh santri Pesantren Walisongo di halaman pesantren, Selasa (19/10) lalu.

Pewarta: Luluatul Mabruroh  

SebelumnyaWajah Bucin dari Bilik Pesantren
BerikutnyaPerguruan Tinggi Islam Harus Menjawab 3 Tantangan Ini