Beberapa Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang menjadi peserta dalam Mu’tamad 2021.

Tebuireng.online– Simposium Khazanah Pemikiran Santri dan Kajian Pesantren atau al-Multaqo ad-Dawliy lil-Bahts ‘an Afkar at-Thullab wa-Dirasat Pesantren (Mu’tamad) 2021 memberikan enam rekomendasi umum kepada Kementerian Agama RI, Jumat (15/10).

Enam rekomendasi yang diberikan kepada Kementerian Agama RI merupakan hasil diskusi dari semua peserta Mu’tamad. Peserta Mu’tamad dibagi menjadi 6 panel, disetiap panel peserta akan mempresentasikan hasil dari pemikirannya baik yang daring (dalam jaringan) ataupun yang luring (luar jaringan).

Setelah semua peserta selesai presentasi setiap panel menyimpulkan hal-hal yang perlu direkomendasikan, dan kemudian menggabungkan rekomendasi dari setiap panel. Adapun enam rekomendasi umum yang telah disepakati oleh seluruh anggota sebagai berikut:

Pertama, Kemenag wajib memelihara komitmennya untuk menjamin, rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi penyelenggaraan pesantren dengan tetap memerhatikan kekhasan, karakteristik, dan asas kemandirian pesantren.

Kedua, Kemenag perlu memfasilitasi terbentuknya suatu wadah komunikasi Pesantren di tingkat nasional.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketiga, Kemenag wajib menyelenggarakan berbagai kegiatan penelitian berbasis pesantren.

Keempat, Kemenag wajib melakukan setiap usaha yang menjamin penyelenggaraan pesantren dalam fungsi Pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan.

Kelima, Kemenag perlu membangun komunikasi dan kemitraan dengan pemda untuk menjamin fasilitasi penyelenggaraan pesantren dalam bentuk program dan penyusunan peraturan daerah.

Keenam, Kemenag mendorong upaya-upaya kemandirian pesantren dengan dalam menggali potensi yang dimiliki, mengembangkan unit usaha, serta menyediakan akses pasar melalui e-commerce.

“Selamat atas terselenggaranya acara Mu’tamad 2021 dengan lancar, yang mana simposium yang telah dilaksanakan selama tiga hari merupakan penyempurna Mu’tamad Pemikiran Santri Nusantara yang digelar tahunan sejak tahun 2018,” ungkap Wakil Menteri Agama, KH. Zainut Tauhid Sa’adi, mengapresiasi.

Menurut Wamenag, dikumpulkan santri, mahasantri, dan penggiat pesantren ini untuk merespons kajian dan perkembangan tentang pesantren itu sendiri. Mu’tamad dalam literatur pesantren ditafsirkan sebagai pandangan-pandangan dari pata ulama dan dijadikan sebagai landasan fatwa-fatwa keagamaan.

Sajian ilmiah dalam penyelenggaraan tahun ini mengusung beberapa tema penting yang berkaitan dengan pesantren dan penguatan fungsi pesantren, pesantren dan penguatan fungsi dakwah, dan pesantren dan penguatan fungsi pemberdayaan masyarakat yang memang sudah terangkum dalam undang-undang no.18 tahun 2019 tentang Pesantren. Selain itu juga mengusung tiga tema penting untuk masa depan pesantren.

Berdasarkan data Kementerian Agama sampai tahun 2021, terdapat 32 pesantren yang ada di Indonesia dengan jumlah santri mencapai 4 juta orang. Pesantren yang multifungsi dan karakter yang identik sebagai lembaga tafaqquh fiddin, lembaga pendidikan dan pengembangan masyarakat dan lembaga yang mandiri.

Zainut Tauhid menambahkan, saat ini masih ada fenomena ingin belajar agama secara sempurna. Namun, tidak diiringi dengan konsep belajar agama yang mendalam seperti pesantren.

“Banyak yang belajar melalui perantara media sosial yang tidak sambung sanad keilmuannya. Pesantren dengan landasan kajian kitab kuningnya menjadi instansi yang ornamental dan model pendidikan asli Nusantara. Kiai yang mempunyai intelektual tidak terputus. Pesantren merupakan pendidikan yang cocok untuk mendalami ilmu agama,” tegasnya.

Pewarta: Almara Sukma

SebelumnyaMaulid Nabi Muhammad SAW Ala KH. M. Hasyim Asy’ari (Bagian-3 Habis)
BerikutnyaPesan Moral Maulid Nabi dari Pesantren Tebuireng