Beberapa santri menyimak bedah Majalah Tebuireng edisi-73, di Perpustakaan Pesantren Tebuireng, Jumat (27/8).

Tebuireng.online—Tim Majalah Tebuireng membedah majalah edisi-73 tema “33 Kitab Paling Berpengaruh di Pondok Pesantren”. Dalam bedah majalah ketiga ini, MT mengundang Dosen Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Ustadz Masrokhin sebagai narasumber didampingi ustadz Wulida Ainur Rofiq, Pembina Santri Pesantren Tebuireng sebagai moderator.

Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (27/8) malam, di Perpustakaan KH. A. Wahid Hasyim Pesantren Tebuireng. Acara dimulai pukul 20.00 Wib, yang dihadiri oleh delegasi santri (offline) dengan taat protokol kesehatan dan disiarkan melalui zoom meeting serta live YouTube Majalah Tebuireng.

“Kitab kuning menjadi komponen paling penting, santri dan kitab kuning menjadi satu kesatuan seperti pasangan, santri tanpa kitab kuning ibarat jomblo ngaku punya pacar,” ungkap Ustadz Rofiq, membuka acara.

Dalam edisi 73 ini, Majalah Tebuireng sudah melakukan riset kitab paling berpengaruh di pesantren besar di berbagai pesantren wilayah Jawa-Madura, sehingga terpilih lah 33 kitab yang disajikan dalam majalah ini.

“Gak usah pengen yang muluk-muluk, jika ingin berpengaruh maka menulislah. Yang dihafal akan hilang yang ditulis akan abadi. Intinya menulislah!” sambut Ustadz Masrokhin membuka pembahasan seputar karya kitab tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Para peserta -baik santri yang ada di tempat dan audiens online- sangat antusias menyimak materi yang disampaikan. Timbul beberapa pertanyaan dari peserta bedah majalah.

Salah satu pertanyaan yang diutarakan, “bagaimana menyikapi fenomena yang viral di media sosial sebagaimana KH. Hasyim dulu menulis kerena ada yang salah dari kegiatan umum?” moderator membacakannya melalui kolom komentar audiens.

“Di era ini para netizen meributi pembahasan yang belum selesai. Ayatnya masih setengah. Iya mesti ribut. Jadi ketika ada fenomena melihat KH. Hasyim tidak selalu menggunakan bahasa Jawa. Ada campuran bahasa Arab dan Jawa (pego). Alasan Kiai Hasyim menggunakan bahasa Arab adalah agar orang yang tidak mengerti bahasa Arab tidak ikut merecoki, tidak ikut ribut. Pada saat ini tulisan pakai bahasa Indonesia, semuanya ngerti, sehingga semua ikut ribut,” tanggapan dosen Unhasy mengenai pertanyaan audiens.

Selain soal fenomena di media sosial, peserta bedah buku juga mempertanyakan keberadaan kitab digital, sehingga bagaimana kedudukan kitab kuning (cetak) saat ini?

“Kalau kita belajar kitabnya gak dicorat-coret itu dirasa kurang nyaman. Itu juga menjadi kata kunci sebagai pengingat ketika dibuka lagi. Nah sekarang sekolah online, maka kitab digital menjadi sebuah pilihan,” jawab ustadz Masrokhin.

Ustadz Masrokhin menceritakan, dulu ada orang yang beranggapan bahwa Imam Ahmad sudah menjadi orang paling alim, kenapa masih belajar, lalu Imam Ahmad menjawab, “saya punya pulpen dan akan saya bawa sampai ke makam,” terang pemateri mengisahkan.

Mendengar penjelasan tersebut, ustadz Rofiq selaku moderator dalam bedah buku ini memberi kalimat penutup sebagai kesimpulan dari pembahasan. “Untuk menjadikan umur panjang, maka menulislah, maka tulisanmu menjadi umur kedua yang akan lebih panjang dari usiamu,” tutupnya.

Untuk diketahui, kegiatan bedah majalah ini akan terus berlangsung. Untuk berikutnya yaitu edisi 74, “Menjaga Semesta Menjaga Diri Kita”. Sekadar memberitahu, untuk mengetahui info lebih lanjut silakan ikuti akun instagram Majalah Tebuireng di @majalahtebuireng

Pewarta: why/afa

SebelumnyaMelalui Tebuireng, Pelindo III Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga
BerikutnyaMeneladani Rasulullah Seputar Metode Belajar Mengajar