(kiri-atas) Cicit Hadratussyaikh, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid (Ipang Wahid) mengisi webinar di Pascasarjana Unhasy.

Tebuireng.online— Cicit Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid (Ipang Wahid) mengungkapkan tentang peninggalan Hadratussyaikh dan prospek pengelolaannya di masa depan. Hal ini disampaikan dalam webinar Pemikiran Hadratussyaikh dalam Hukum Islam dan Pendidikan Islam di Indonesia, Ahad (24/10).

Gus Ipang menjelaskan ada tiga peninggalan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yaitu Pesantren Tebuireng, Nahdlatul Ulama, dan karya tulis.

“Yang pertama, Pesantren Tebuireng. Sudah 120tahun Tebuireng berdiri dan melahirkan 17 cabang pesantren yang tersebar di nusantara,” ungkapnya melalui forum Zoom.

Putra Gus Sholah itu juga menjelaskan kehebatan alumni Tebuireng, seperti Kiai Jazuli Usman, pendiri Pesantren Ploso, Kiai Abdul Manaf, pendiri Pondok Lirboyo Kediri, Kiai Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar, Kiai Chudhori, pendiri Pondok Tegalrejo Magelang, Kiai Syafaat, pendiri Pondok Blok Agung Banyuwangi, dan lain sebagainya.

“Yang kedua, Nahdlatul Ulama. Tantangan terbesar NU adalah menanggalkan kebanggaan tentang ke-NU-annya. Tantangan ke depan milik milenial jadi harus melibatkan milenial pula dalam transformasi digital, kewirausahaan, sehingga dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada masyarakat,” ungkapnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurutnya, value Hadrstussyaikh yang lahir melalui NU dan harus kita jaga yaitu moderat, seimbang, toleransi, dan mencintai Islam harus disertai dengan mencintai Indonesia.

“Yang ketiga, karya tulis. Value yang terkandung dalam karya tulis Hadratussyaikh ialah diarahkan untuk membentuk pribadi yang mampu menebar benih-benih kebaikan, diarahkan kepada pembersihan jiwa hati dari ragam perkara kotor, dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah,” terangnya.

Secara garis besar, lanjutnya, value yang dipegang oleh Hadratussyaikh adalah cinta agama, memiliki visi yang besar, cara berdakwah yang out of the box, cara berdakwah yang toleran, mengayomi, dan komunikatif, cinta negara.

Pewarta: Rafiqatul Anisah

SebelumnyaPesantren dan Negara dalam Pemikiran KH Wahid Hasyim
BerikutnyaSantri Harus Punya Visi Besar dan Berdakwah Out of The Box