Ilustrasi oleh Mudfar Ma’ruf

Hari itu santri baru sudah datang sebab besok pondok sudah aktif. Santri baru ditempatkan di lantai satu, di bawah kamar Cak Jahlun. Kamar mereka terbuat dari kayu, jadi apabila ada orang berjalan di lantai II akan terdengar langkah kaki dari bawah.

Karena masih baru, banyak dari santri baru tersebut yang masih “mbok-mbok-an”. Oleh karena itu Kiai Sepuh menugaskan Cak Jahlun untuk menjaga mereka yang menurutnya paling telaten dan lucu sehingga bisa menghibur mereka. Karena ta’dzimnya kepada Kiainya tersebut iapun menyanggupinya. Ia berpikir, siapa tahu dengan menjalankan tugas dari Kiainya ia dapat barokah tetesan ilmu karena selama ini ia termasuk santri BABLO (Bahlul bin Blo’on).

Suatu siang ketika ia menemani santri baru, Cak Jahlun ketiduran. Dalam tidurnya ia bermimpi, melihat Kiai Sepuh sedang duduk bersila di dalam masjid. Kemudian terdengar beliau menyebut namanya.

Kiai Sepuh  : Cak Jahlun, sini cak

Cak Jahlum : Dalem

Kiai Sepuh  : Apakah sampeyan ingin pintar cak?

Cak Jahlum : Enggeh Yai (sambil tanpa berani menatap wajah Kiainya tersebut)

Kiai Sepuh  : Saya akan memberikan tetesan barokah kepada sampeyan

Cak Jahlum : Terima kasih Yai

Kiai Sepuh  : Buka mulut sampeyan lalu ditelan ya?

Cak Jahlum : Baik Yai” (lantas membuka mulutnya)

Kiai Sepuh lalu memeras sorbannya di atas mulut Cak Jahlun. Cak Jahlun merasakan cairan hangat tapi agak asin di mulutnya. Ia agak ragu “Air barokah kok rasanya aneh??,” pikirnya. Namun karena keinginannya yang kuat untuk mendapatkan tetesan barokah tanpa berpikir panjang iapun menelannya. Sampai akhirnya ia pun terbagun dari tidurnya.

Ketika sadar ia melihat rembesan air dari langit-langit kamar yang menetes tepat ke arah mulutnya yang tadi tidur mangap. Iapun segera bangun dan melihat ke jendela “Tidak hujan, tapi kok ada rembesan air di dalam kamar, jangan-jangan ini benar-benar air barokah dari Yai,” guman cak jahlun.

  Pembuat Video Pesantren Berkumpul, Kembangkan Media Audio Visual

Belum hilang rasa bingungnya tiba-tiba dari arah pintu Paijo tergopoh-gopoh sambil membawa ember berisi air.

Cak Jahlun      : Ada apa jo??

Paijo               : Maaf cak… anu.. anu… saya mau menyucikan kamar cak

Cak Jahlun      : Memangnya kenapa??

Paijo               : Anu.. anu… tadi saya ngompol di kamar, dan tadi merembes ke bawah.

Cak Jahlun      : “!#@##@#$%%^&*)()” [F@R]