Terkikisnya Tradisi di Era Modernisasi

481
sumber foto : facebook Rihlana Ardian

Oleh : Rihlana Ardiyan*

Teknologi dan tradisi adalah dua hal yang berlawanan makna, teknologi dianggap sebagai suatu hal mengenai sarana kehidupan manusia yang selalu memunculkan hal baru setiap saat. Sedangkan tradisi dianggap sebagai suatu hal kuno yang sudah berdebu bagi sebagian orang, meskipun ternyata tradisi tersebut memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat.

Teknologi menurut KBBI adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Kemajuan suatu bangsa juga bisa diukur dengan seberapa majunya teknologi bangsa tersebut. Sedangkan Tradisi menurut KBBI adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat.

Pada tahun 2016, Indonesia adalah negara dengan peringkat pertama untuk kategori suku bangsa terbanyak. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 1.340 jenis suku di Indonesia, ini merupakan jumlah yang fantastis dan itu pun belum termasuk sub suku yang lebih kecil. Bayangkan saja jika satu suku mempunyai kurang lebih 10 tradisi dalam kesehariannya, maka Indonesia memiliki 13.400 tradisi.

Di sisi lain bisa kita lihat, teknologi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini bisa dikatakan maju dengan pesat, ponsel Android diluncurkan di Indonesia pertama kali pada tahun 2011 dengan harga 6,5 Jutaan, sekarang di tahun 2017 hampir semua orang sudah memiliki HP Android, bahkan sekarang HP Android beredar dalam kisaran harga dibawah 500 ribuan.

Mirisnya, dengan semua teknologi yang berkembang di Indonesia saat ini, membuat Indonesia itu sendiri menjadi semakin melupakan tradisinya, tradisi-tradisi tersebut menjadi semakin memudar. Dulu ketika tidak ada HP, seseorang langsung mendatangi rumah orang lain untuk menyampaikan suatu hal, secara otomatis tali silaturahim tetap terjaga. Sekarang, ketika ada HP seseorang merasa tidak perlu mendatangi rumah orang lain hanya untuk menyampaikan suatu hal, mereka cukup memencet tombol-tombol di layar HP dan pesan pun tersampaikan, bahkan seseorang yang dikirimi pun tidak bisa mengetahui itu hal benar atau hal bohong.

Dengan kemudahan teknologi itu, hampir semua orang bisa dikatakan menjadi semakin malas. Dulu saat lebaran, orang-orang di tiap desa berlomba membuat aneka macam kue dan membanggakan aneka kue yang berhasil dibuatnya sendiri, bahkan mengajarkan orang lain cara membuatnya, sementara di zaman sekarang orang yang membuat kue lebaran sendiri jumlahnya bisa dihitung hanya dengan jari.

Teknologi-teknologi yang tidak digunakan dengan baik ini menjadi sangat berbahaya bagi para remaja yang notabennya adalah penerus bangsa. Menurut survei yang dilakukan oleh We Are Social dalam websitenya, rakyat Indonesia yang menggunakan facebook pada November 2015 adalah sebanyak 79.000.000 akun, sedangkan pada Januari 2017 pengguna meningkat menjadi sebanyak 106.000.000, dan yang lebih mirisnya lagi adalah 50% lebih dari pengguna tersebut adalah remaja. Sedangkan, seperti yang dilansir Detik dalam berita websitenya dengan tag “Kasus Kriminal Facebook” ditemukan sebanyak 130an dokumen, meliputi pencemaran nama baik, penipuan, penculikan, prostitusi, dan yang lainnya. Parahnya, korban dan pelaku kebanyakan berasal dari para remaja, baik SMP maupun SMA.

Jika seperti itu adanya, maka bangsa ini hanya tinggal menunggu kapan semua tradisi-tradisi yang ada akan punah dan menghilang tanpa ada generasi yang melanjutkan tradisi tersebut,  lalu semua hanya akan tinggal menjadi sejarah peradaban dari bangsa Indonesia, bangsa Indonesia yang terkenal dengan bangsa yang kaya akan tradisi hanya akan tinggal kenangan.

Apakah dengan semakin majunya teknologi menjadikan semakin pudarnya tradisi kita? Jika tidak, mengapa bukti-bukti yang menunjukkan benarnya hal tersebut semakin banyak bermunculan? Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi, atau setidaknya meminimalisir pudarnya tradisi di Indonesia. Tanamkanlah rasa nasionalisme sejak dini, rasa cinta tanah air dan seluruh tradisi kebudayaannya. Ajarkanlah remaja untuk menyaring semua pembaharuan-pembaharuan teknologi yang ada di dunia, ambil sebagian sisi positifnya saja. Membangun pusat-pusat pengetahuan kebudayaan tradisional di Indonesia, dan masih banyak lagi.

Sudah saatnya bangsa kita berbenah diri, mengikuti tradisi lama yang baik dan menambahkan hal-hal baru yang lebih baik. Bukankah lebih indah jika kedua hal tersebut berjalan dengan selaras dan seimbang, menjalani kehidupan modern dengan tetap memegang teguh tradisi lama yang baik.

#Disarikan dari berbagai sumber.

 

*Siswa SMA A Wahid Hasyim kelas XII