Saatnya Menjadi Santri 24 Karat

307

Judul buku      : Khodimun Nabi

(Membuka Memori 1971-1975 Bersama Prof. KH. Ali Musthofa Ya’qub)

Penulis             : Cholidy Ibhar

Penerbit           : Pustaka Tebuireng

Tahun Terbit    : 2016

ISBN               : 978-602-8805-38-4

Tebal Buku      : xvi + 114 halaman

Peresensi         : Izzatul Mufidati*

Dalam buku Khodimun Nabi, Prof. Dr. KH. Ali Mustofa Ya’qub mengatakan, “Kalau saja semua santri menjadi santri 24 karat. Menjadi santri sungguhan tidak cuma belajar, namun juga riyadhoh, pastilah hidupnya bermanfaat di tengah-tengah masyarakat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.”

Sebuah pernyataan yang memang seharusnya dipahami dengan penuh arti oleh kita sebagai pemuda ataupun santri yang notabenenya memiliki tugas dalam belajar serta mengaplikasikan ilmu yang telah kita tekuni di pesantren. Buku yang ditulis dengan contoh realita ini, sangat mewakili kondisi santri ataupun bangsa saat ini yang sering dilanda krisis pemahaman juga krisis ilmu.

Dalam sebuah tulisan, Ustad Ali Mustofa tidak takut dan tidak merasa malu disebut tradisional. Malahan menepuk dada, “Aku adalah tradisionlis!” Akrab dan berbangga diri dengan identitas kepesantrenan dan ke-NU-an. Tak ayal, kopiah, sarung, dawamul wudhu’, lengket menjadi balutan performance keseharian Ustad Ali Mustofa.

Dalam buku yang ditulis oleh Cholidi Ibhar ini, juga disebutkan bahwa Ustad Ali Mustofa mengungkapkan, “Sejak kapan kita diatur-atur oleh kemodernan, kita didekte, diwajibkan menjadi modernis, dan dituding ketinggalan zaman bila tidak paralel dengan yang serba modern?” (hal 43)

Melihat fenomena yang ada saat ini, jika kita mau memahami lebih kritis, maka modern dan tradisional sejatinya hanya penamaan dan stigma. Maknanya, maksudnya, dan tafsirnya bisa diperdebatkan. Muslim dan mukmin hebat tidak harus dipaksa dengan ukuran orang lain, apalagi yang serba westernized. Jika sudah sekujur tubuh, pikir, dan perilaku berkiblat ke Negara Barat dijamin modern. Jika hendak disebut modern, disetting menjadi makmum ke Barat.

  Walisongo, Penyebar Aswaja di Indonesia

Padahal, tolok ukur muslim dan mukmin bukanlah pakaian modern. Namun, ukurannya adalah cara menjadi seorang muslim yang sepenuh jiwa raga muslim (walaa tamutunna illa wa antum muslimun). Bagaimana merambah diri sebagai hamba yang mulia dengan predikat yang paling bertaqwa.

Isi kandungan dalam buku yang sangat bernutrisi untuk kemajuan Islam dan keuletan santri ini sangat cocok untuk semua kalangan. Terutama di kalangan santri atau siapa pun yang tinggal di pesantren atau pernah belajar di sana. Karena di dalam buku ini Prof. KH. Ali Musthofa Ya’qub adalah salah satu pakar hadis terkemuka di Indonesia. Beliau memiliki kehidupan yang menarik. Beliau juga merupakan salah satu mega bintang santri di era tahun 70-an. Mengingat beliau tentu akan membuka memori kita akan jejak riwayatnya semasa menimba ilmu di Pesantren Tebuireng.

Selain dapat menjadi obat rindu kita kepada beliau juga menjadi tokoh inspirasi yang sarat dengan teladan bagi kita semua. Semoga buku ini memotivasi serta menjadi pedoman pembelajaran para santri untuk mencapai keberhasilan secara duniawi dan ukhrawi.


*Mahasiswa STIT UW Jombang

Publisher : Munawara, MS