Perkaya Khazanah Pesantren, Santri Tebuireng Suguhkan Pagelaran Seni ke-6 yang Memukau

579
Penampilan dari santriwati Pesantren Tebuireng dalam Pagelaran Seni 2017, Kamis (18/05/2017). (Foto: Kopi Ireng)

Tebuireng.online- Pagelaran Seni ke-6 Pesantren Tebuireng yang  bertema “Kemilau Cahaya Pesantren Menembus Cakrawala” sukses digelar, Kamis (18/5/2017) malam, di Halaman Pondok Pesantren Putri Tebuireng Jombang.

Kegiatan tersebut terselenggara berkat kreativitas dan inovasi santri Tebuireng sehingga mampu menyuguhkan Pagelaran Seni dengan memadukan unsur keislaman dan kebudayaan yang memukau.

Kepala Pondok Pesantren Tebuireng, Ustadz Iskandar mengatakan, Pagelaran Seni santri di Tebuireng merupakan wujud untuk memperkaya khazanah pesantren. “Pagelaran Seni Tebuireng adalah manivestasi santri sebagai maha karya demi memperkaya khazanah pesantren,” ujarnya saat membuka acara.

Begitupun juga dengan Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, KH. Fahmi Amrullah Hadzik, menurutnya salah satu alasan terselenggaranya Pagelaran Seni tersebut adalah bagaimana santri dapat berdakwah dan membendung arus globalisasi menggerus nilai budaya dan moral generasi penerus bangsa.

“Saya sangat berharap dengan adanya pagelaran seni yang sudah ke-6 ini bisa menciptakan para seniman-seniman, para artis-artis yang berlatar belakang pesantren, yaitu seorang santri. Sebagai penonton sekaligus pengamat, kita sudah seringkali menemukan banyak seniman maupun artis yang mempunyai perilaku yang kurang etis. Dan sebagai jawabannya, Tebuireng memberikan keleluasaan kepada para santri untuk mengembangkan kreativitas, minat dan bakatnya, tentunya dengan tidak melupakan tugas utama sebagai seorang santri yakni menuntut ilmu,” jelasnya dengan mantab.

Acara yang bekerjasama dengan Kopi Ireng itu juga menyajikan pertunjukan seni dengan memutar film singkat tentang sejarah pesantren dan para tokohnya, termasuk Almarhum, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang merupakan satu-satunya presiden Republik Indonesia (RI) yang memiliki latar belakang pesantren.

Setelah film usai diputar, nampak barisan Paskibra berseragam merah putih yang menguasai panggung dengan membentangkan bendera besar merah-putih dan bendera berlambang pesantren Tebuireng. Penataan panggung dan dekorasi berbentuk istana megah menambah kemeriahan acara, diikuti suara kembang api yang berkali-kali mengangkasa sebelum lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama.

  Santri dan Masyarakat Manfaatkan Gerakan Nasional Non Tunai di Tebuireng

Pertunjukan apik tersaji, seperti drama sufistik legendaris “Laila Majnun”, drama kolosal yang merupakan wujud representasi dari keberagaman Indonesia, dimulai dengan berbagai macam pertunjukan tari seperti Saman dan Kecak. Ada pula sesi bermain peran Bhineka Tunggal Ika tentang kemajemukan bahasa dan agama yang sukses mengundang tepuk tangan para hadirin. Komedi drama “Penjara Suci” yang berlatar pesantren juga tidak luput dari perhatian.

Ada yang unik dari pagelaran seni ke-6 pesantren Tebuireng, yakni meskipun berdasarkan seni yang terkenal bebas, para santri yang berkontribusi justru menunjukkan sisi santrinya. Seperti misalnya saat pameran fashion, para santri putri yang menjadi peragawati tetap menjaga penampilannya dari unsur vulgar. Keunikan lain yang ditawarkan pagelaran seni tahun ini adalah tidak semua yang ditampilkan berbau seni murni, akan tetapi perpaduan seni dengan kode etik, seperti halnya penampilan hapalan surat dan arti khas Tebuireng, sisipan pesan moral dalam drama, ajakan berpikir jernih, dan sebagainya.

Tidak lupa pada Pagelaran Seni kali ini menyorot globalisasi serta dampak baik-buruknya bagi generasi muda lewat penampilan dance dengan koreografi modern, drama kocak, dan pesan kearifan lokal. Atraksi pencak silat juga turut meramaikan jalannya acara yang selesai tepat pukul 23:30 WIB. Kegiatan tersebut diakhiri dengan kemeriahan lagu “Indonesia Pusaka” yang dilantunkan oleh para santri.


Pewarta : Khosshol Fairuz

Editor : Rif’atuz Zuhro

Publisher : Masnun Muhammad