Obituari Pagi, Sajak-Sajak Khoshshol Fairuz (1)

637
Sumber ilustrasi: www.adamsains.us

Akan Lebih

Aku menyukai kita yang tak mengerti apa-apa kecuali kertas dan huruf-huruf hitam di atasnya

Aku menyukai sepasang cangkir dengan kopi tebal yang menenggelamkan kata-kata menjadi selembar prosa

Aku menyukai percakapan yang menanggalkan kalimat-kalimat, dan lebih banyak memanfaatkan netra untuk mengungkap kedalaman jiwa

Aku pun menyukai perjumpaan yang demikian asing dari keramaian, bukankah lebih menyempitkan makna kata bising, atau menggaduhkan makna kata kita

Aku sangat menyukai tentang peran semesta dalam menggumulkan diksi paling alam di ketidakberaksaraan kita

Bukan begitu?

Jombang, 2017-01- 26


Ibarat

Setetes lautan

Mendebur dalam kelopak

Nyanyikan lagu nyiur yang teduh

Meski sendu menitik kalbu

Ulurkan kisah yang menjuntai dalam jiwa

Turut sentuh tepian luka

Pemuisi ini

Mencemaskan diksi yang hilang

Padahal sekotak penuh makna hidup

Tergeletak di ruang hatinya

Jombang, 10-3- 2017


Sempurna

Merasa pangling aku pada dunia. Cinta diibaratkan hubungan lelaki dan wanita. Padahal kita berasal dari ketidakberadaan; hampa menjadi wujud seharusnya. Kita pun lupa tak sejarahkan asal-muasal gender yang sebenar sempitkan makna. Jika cinta serupa desir memeluk, mencium, atau meraba. Lalu kita sebut apa kehadiran mereka yang tak bertangan, tak memiliki paras. Selain diciptakan di tengah orang yang salah artikan kesempurnaan.


Indonesia Kedua

Memuisikan Indonesia hari ini

Seperti menemukan belati dalam jantung tubuh

Harmonis seolah jadi jelmaan artifisial yang terperangkap di kepala-kepala politisi

Tapi kita bisa bicara lantang soal kontur kaum sarungan

Yang berdiri saat keadilan dikabarkan mati

Pada hati-hati mereka yang terpilin ketidaksantunan jaman

Sementara merah-putih masih belum selesai dikibarkan

Kita mesti mengingat sorban putih berornamen nusantara

Kain yang sama yang kelak membebat luka bangsa

Benangnya adalah sutra keempat as Saff yang mereka pintal sendiri

  Salam untuk Para Pendahulu

Maka pekikan takbir dalam dadanya yang berongga itu

Lebih liris dari bait-bait para penyair

Semacam pangkat paling kontemporer

Yang diselipkan Tuhan pada dawuh sang kiai

Begitulah cara-Nya wariskan bunga terakhir

Kepada bangsa renta bernama kita

Jombang, 25 Januari 17


Obituari Pagi

Jendela timur menyisakan rongga sebesar wajahmu

Pohon yang mengatur konturnya demikian

Pada sisa hujan semalam

Memberatkan mimpi yang dibangun jejak kata-kata kita

Sementara metahari enggan tumbuh

Seperti rindu yang tampak kurus tak terasuh

Kemudian kutemukan tangis tergeletak dimana-mana

Mengunjungi apapun yang sungkawa

Seluruhnya mengelebat

Membentuk warta-warta yang menyulitkan indra

Lalu berhenti di antara napas yang belum hirup

Endapkan alasan purba

Sedang mata yang menyimpan posturmu; sepet!

Sudutnya teteskan cairan sepi

Yang mengalir kemudian berhenti hidup

Jombang, 2017


*Khoshshol Fairuz adalah penyair muda Jombang, pengisi Rubrik Sastra tebuireng.online, dan mahasiswa STIT UW Jombang.