Menyikapi Cacian dan Hinaan di Era Media Sosial

2425

Oleh : KH. Fahmi Amrullah Hadzik

اَلْحَمْدُ لِلّهِ . نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ . وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُهُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللهِ . اِتَّقُوْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Rahimakullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Haqqo tuqotihi dengan sebenar-benar taqwa, dalam artian berusaha menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dan janganlah kita sekali-kali meninggalkan dunia ini, kecuali dalam keadaan beragama Islam dan khusnul khotimah.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Diriwayatkan, suatu hari Rasulullah SAW. Bersilaturrahmi ke rumah Abu Bakar As-Shiddiq. Ketika beliau berdua sedang berbicara, tiba-tiba datang seorang Arab Badui yang tanpa sebab di hadapan Rasulullah, dia mencaci-maki Abu Bakar dengan kata-kata kotor.

Melihat ulah Badui tersebut, Abu Bakar tenang, sabar dan tidak menghiraukan cacian darinya. Rasulullah tersenyum melihat sahabatnya sabar dan tenang. Melihat sasarannya tidak terpengaruh, untuk kedua kali Badui tersebut melontarkan kata-kata cacian yang lebih keras dan pedas kepada Abu Bakar. Untuk kedua kali pula, Abu Bakar tidak terpengaruh dan tetap melanjutkan obrolannya dengan Rasulullah. Kedua kali juga Rasulullah tersenyum melihat kesabaran sahabatnya.

Hal ini membuat si Badui semakin emosi. Untuk ketiga kali, dia melontarkan kata-kata yang jauh lebih keras, lebih pedas, dan lebih kotor. Tetapi sayang, untuk yang ketiga kalinya ini, Abu Bakar sebagai manusia biasa tidak mampu menahan kesabarannya. Emosinya tersulut, sehingga Abu Bakar membalas cacian Badui tersebut dengan cacian pula. Akhirnya mereka berdua saling mencaci d ihadapan Rasulullah SAW.

Melihat hal tersebut, Rasulullah bangkit dari duduknya dan tanpa mengucapkan satu kata pun beliau meninggalkan tempat, keluar dari rumah Abu Bakar. Langsung Abu Bakar mengejar beliau sampai ke halaman rumah sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan tinggalkan aku sendiri dalam keadaan bingung. Kalau aku melakukan kesalahan, tolong beritahu aku apa kesalahanku”.

Akkhirnya Rasulullah berhenti dan menjelaskan kepada Abu Bakar. “Wahai Abu Bakar, ketika Badui itu mencacimu dengan kata-kata kotor untuk pertama kali dan engkau mampu menahan emosimu, aku melihat ribuan malaikat mengelilingimu maka aku tersenyum. Dan untuk kedua kali, ketika Badui tersebut mencaci-makimu dengan kata-kata yang lebih kotor, dan engkau masih mampu menahan kesabaranmu, aku melihat malaikat yang mengelilingimu semakin banyak. Tetapi untuk yang ketiga kali, ketika Badui itu melontarkan kata-kata yang jauh lebih keras dan pedas, ternyata engkau tidak mampu menahan kesabaranmu, malah engkau membalas cacian Badui tersebut dengan cacian pula. Seketika ribuan malaikat yang mengelilingimu tadi pergi meninggalkanmu dan diganti iblis yang mengelilingi. Aku tidak ingin berkumpul dengan iblis dan mengucapkan salam kepadanya”.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Barangkali apa yang dialami oleh Abu Bakar ini, sering kali terjadi di tengah-tengah kehidupan kita. Bukan saja bagi orang-orang awam, bahkan ulama pun sering menerima cacian dan makian. Padahal jelas-jelas Allah SWT melarang kita untuk mengolok-olok orang lain.

  Tak Pernah Memarahi Santri, Mengais Keteladanan Kiai Syansuri Badawi (Bagian-2)

يَآ أَيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوْا لَايَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُوْنُوْا خَيْرًا مِنْهُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. Bisa jadi kaum yang diolok-olok itu lebih baik daripada orang yang mengolok,” (QS. Al Hujuraat: 13).

Apalagi orang-orang zaman sekarang ini, mengolok-olok bukan hanya secara langsung di hadapan orang, melainkan lewat media sosial, yang tentu saja bukan hanya seperti yang dialami Abu Bakar, bisa langsung kita tegur. Namun, kalau lewat media sosial, maka akan menyebar. Bukan hanya dibaca oleh orang satu RT, tapi mungkin bahkan se-Indonesia dan seluruh dunia pun bisa mengetahuinya.

Maka sikap seperti Abu Bakar ini diperlukan, sabar dan sabar. Dan kalau ada berita yang tidak bagus dan tidak baik, hendaknya kita mau bertabayun dan mengklarifikasi.

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, ketika datang orang fasik dengan membawa berita. Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada satu kaum yang kamu tidak tahu keadaannya, sehingga membuatmu menyesal atas perbuatanmu,” (QS al Hujuraat: 6).

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ketika ada orang lain yang mencacimaki kita dengan kata-kata kotor, itu tidak akan membuat diri kita menjadi kotor. Ketika ada orang yang menghina kita, itu tidak akan membuat kita menjadi hina. Bahkan, ada orang yang mengkafir-kafirkan kita dan memusyrik-musyrikkan kita, itu tidak akan menjadikan kita menjadi kafir atau musyrik. Kalau kita memang tidak melakukan kekufuran dan kemusyrikan.

Karena itu, tips yang paling utama untuk menghadapi (polemik) sekarang ini adalah seperti perintah Allah SWT ‘fatabayyanu’ bertabayunlah atau lakukan klarifikasi. Kalau memang tidak mampu, maka bersabarlah.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا

Bersabarlah (Muhammad) atas apa yang mereka ucapkan. Dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik” (QS al Muzammil: 10).

Kalau bisa tabayun, tabayunlah. Kalau tidak bisa, tidak perlu dihiraukan. Kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot.” Maka sesungguhnya, seorang hamba Allah Yang Maha Rahman itu adalah mereka yang berjalan di atas bumi dengan kerendahan hati. Dan ketika orang-orang bodoh mengucapkan kata-kata yang tidak baik kepada mereka, maka dijawab oleh mereka dengan salam kata-kata keselamatan.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Semoga kita dijauhkan dari fitnah, ghibah, ucapan-ucapan yang tidak baik, dijadikan orang-orang yang sabar dan semoga kita dianugerahi pemimpin-pemimpin yang kuat imannya dan mampu menjadikan Indonesia ini baldatun thoyyibah wa rabbun ghofur. Semoga bermanfaat, khususnya bagi saya dan umumnya bagi para jamaah.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْمَنَّانِ وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ . مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


*Disampaikan di Masjid Tebuireng pada Jumat, 3 Maret 2017