Meneladani Rasulullah SAW

2283

Oleh: Dr.(HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid

Seperti banyak umat Islam di berbagai negara, kita juga merayakan maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam kegiatan  itu biasanya kita bacakan surah  Al Ahzab ayat 21 : “Laqod kaana lakum fi rasulillaahi uswatun khasanah liman kaana yarju allaha wal yauwmal aakhiro wa dzakaro allaha katsiiro. (Sesungguhnya bagi diri kalian pada Rasulullah terdapat uswah khasanah bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir dan banyak mengingat Allah).

Sejalan dengan ayat tersebut diatas, semua umat Islam berusaha  meneladani prilaku Rasulullah SAW. Tampaknya banyak dari kita merasa sudah betul-betul meneladani beliau.  Apakah itu benar? Mari kita kaji.

Rasulullah SAW mempunyai banyak peran. Dan dalam semua peran itu, beliau mampu menunjukkan prestasi yang amat mengagumkan. Karena itu tidak heran apabila Michael Hart, seorang ilmuwan dari Amerika Serikat memilih beliau sebagai tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia. Penilaian itu dilakukan setelah membuat kajian mendalam. Dibawah beliau muncul Isac Newton -ilmuwan yang menemukan prinsip gravitasi/gaya tarik bumi- lalu Nabi Isa, Budha dan Kong Hu Chu.

Kalau beliau mendapat penghargaan tinggi semacam itu berarti beliau  mempunyai prestasi amat menonjol bukan saja di dalam peran beliau sebagai Rasulullah, tetapi dalam peran sebagai pemimpin dari sebuah masyarakat yang warganya tidak hanya umat Islam, tetapi juga umat beragama lain. Beliau diakui telah mampu membangun sebuah masyarakat yang sampai kini tetap menjadi acuan bagi masyarakat dunia termasuk umat non muslim.

Sebagai pemimpin, Rasulullah telah berhasil membangun masyarakat Islam di Madinah dalam waktu amat singkat, sekitar 23 tahun sejak beliau menerima wahyu pertama. Prestasi itu amat gemilang karena berhasil membangun rasa saling percaya dan solidaritas tinggi, rasa percaya diri, semangat tinggi untuk maju. Bandingkan dengan masyarakat kita yang telah merdeka 65 tahun, tetapi tidak mengalami peningkatan seperti yang diharapkan, walaupun secara fisik mengalami kemajuan.

Dengan semangat pionir seperti itu umat Islam menyebar ke berbagai pelosok dunia untuk menyebarkan agama Islam. Ada riwayat bahwa jumlah sahabat yang mengenal Rasulullah SAW mencapai sekitar 100.000. Dari jumlah itu, hanya ± 20% yang wafat di daerah Arab, sisanya menyebar ke banyak negara lain.

Rasulullah SAW telah berhasil membentuk karakter umat Islam yang ternyata telah menjadi modal utama sehingga bisa berhasi menyebarkan Islam ke berbagai tempat, baik ke arah Barat sampai Andalusia maupun ke Timur sampai ke China, Asia Tenggara. Selain itu Rasulullah juga berhasil membangun budaya organisasi yang berdasar prestasi bukan berdasar kekeluargaan dan kekerabatan. Banyak anak muda yang berpotensi diangkat menduduki jabatan strategis.

Membangun karakter masyarakat dan budaya organisasi yang amat baik itu tentu membutuhkan prasyarat utama yaitu keteladanan nyata dari sang pemimpin. Dalam masalah ini Rasulullah SAW adalah contoh terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Rasulullah SAW adalah pekerja keras, tidak hanya pandai menyuruh tetapi ikut dalam kegiatan. Rasulullah SAW amat baik dalam berkomunikasi.

Rasululah SAW melakukan peran sebagai pemimpin itu tidak untuk mencari harta atau takhta. Beliau hidup secara sederhana. Yang beliau lakukan itu hanya untuk menjalankan perintah Allah SWT. Semuanya dilakukan dengan ikhlas, semata-mata karena Allah SWT. Karena beliau menunjukkan teladan seperti itu, maka para sahabat juga meneladani dengan mantap.

Saat Usman bin Affan menjadi khalifah, penentuan siapa yang akan menduduki jabatan sudah mulai dipengaruhi oleh aspek kekeluargaan dan kedekatan. Kehidupan mewah mulai menjadi kebiasaan para pejabat dan petinggi umat Islam. Sangat mungkin terjadi telah dimulai praktik penyalahgunaan kekuasaan. Sahabat Abu Dzar al Ghiffary mencoba memberi peringatan, tetapi malah dikucilkan oleh para sahabat. Keikhlasan secara perlahan hilang dari diri para sahabat.

Sementara itu kerajaan Islam yang didukung oleh ilmuwan muslim berhasil menjadi kekuatan dunia. Umat Islam berhasil menguasai Eropa, India dan Asia. Abad 16 menjadi awal kemunduran umat Islam yang kini mencapai titik nadir. Apakah yang dialami umat Islam seluruh dunia sehingga mengalami keterpurukan, padahal kita selalu mengklaim bahwa kita telah meneladani Rasulullah SAW?

Kita tidak lengkap di dalam meneladani Rasulullah SAW. Saya punya kesan bahwa yang kita ikuti hanya yang berkaitan dengan ibadah mahdhah, tetapi didalam masalah sosial, ekonomi dan politik, kita tidak mengikuti teladan Rasulullah SAW. Dalam ayat surah Al-Imran dinyatakan bahwa “Apabila Allah menolong kamu, tidak akan ada yang mengalahkan kamu”. Susah untuk membantah bahwa kini kita bukanlah pihak yang menang. Berarti Allah SWT tidak menolong kita.

Mengapa Allah tidak menolong kita? Karena kita telah meninggalkan ajaran Allah. Ajaran apa yang kita tinggalkan?  Ajaran seperti perilaku Rasulullah yang diuraikan diatas, yang intinya ialah keikhlasan dan karakter-karakter terpuji yang dimiliki oleh para sahabat Rasulullah, telah banyak kita tinggalkan. Kini banyak dari kita termasuk para pemimpin, lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan umum. Penyalahgunaan kekuasaan dalam berbagai bentuk, sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Meneladani Rasulullah hanya pada sholat, puasa, haji dan ibadah mahdhah lainnya, tetapi meninggalkan teladan beliau pada ibadah sosial/profesial (usaha, politik), adalah sesuatu yang ironis dan kontradiktif. Insyaallah, ibadah mahdhah tersebut tidak berarti kalau kita meninggalkan ibadah sosial itu. Ibadah mahdhah harus disertai ibadah sosial/profesonal. Semoga kita diberi kemampuan meneladani akhlak Rasulullah sebagai pemimpin umat.


Penulis     : Dr.(HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid

Publisher  : M . Ali Ridho

  Kecintaan dan Kerinduan Ulama Salaf kepada Nabi Muhammad SAW