Mahmoud Darwish, Humanisme Pengantar Perdamaian di Negeri Palestina

392
Sumber foto: https://alchetron.com

Oleh: Anita Nur Laili Mahbubah*

Karya tulis dengan gaya humanis merupakan ciri khas karya seorang Mahmoud Darwish, lahir di Desa El Birwah sebelah timur Galilee pada 13 Maret 1941, ia anak kedua dari pasangan Salim dan Hurruiyah. Darwish belajar dari sang kakek karena kedua orang tuanya buta huruf. Ia bertempat tinggal di Palestina, setelah Israel menghanguskan bumi tercintanya kemudian pada juni 1948 ia dan keluarganya pindah ke Lebanon, dan kemudian ia kembali lagi, tetapi bukan ke Palestina yang ia tuju, tapi daerah yang telah menjadi bagian dari negara Israel.

 

Setelah itu sekitar tahun 1970-an ia pergi ke Rusia untuk melanjutkan belajarnya di University of Moscow selama setahun. Perjalanan cintanya tak semulus lekuk indah syairnya, dua kali ia menikah dan bercerai. Istri pertamanya seorang penulis bernama Rana Kabbani, di pertengahan 1980 ia menikah lagi dengan Hayat heeni. Pada 09 Agustus 2008 Darwish meninggal dunia, yang kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi sanak keluarganya, ia dimakamkan di Ramallah.

Walikota Ramallah, Janet Mikhail mengumumkan bahwa Darwish akan dimakamkan di samping Istana Budaya Ramallah, lebih tepatnya di puncak bukit yang menghadap Yerusalem di pinggiran barat daya Ramallah. Pemerintah Kota Ramallah juga akan membangun sebuah monumen sebagai penghormatan kepadanya. Bahkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas memberikan pidato terakhir pada acara pemakamannya serta mengumumkan suasana berkabung selam tiga hari. Berbagai tokoh penting Palestina, bahkan dunia hadir, di antaranya adalah Perdana Menteri Prancis saat itu, François Fillon.

Karya sederhana yang sangat kaya akan makna diambil dari sifat kemanusiaan. Bakat menulisnya sudah terlihat ketika masih kanak-kanak. Sewaktu umur 19 tahun ia telah membuat puisi pertamanya yang dipublikasikan dengan judul “Burung  Tak Bersayap”. Karyanya hingga wafat sebanyak 30 jilid puisi dan 8 buku prosa dengan gaya penulisan yang khas Arab klasik. Dalam temanya pun selalu mengangkat tentang kemanusiaan dan semangat juang. Karyanya juga dipengaruhi oleh beberapa penyair yang ternama diantaranya Yehuda Amircha yakni penyair asal israel. Diantara karya-karya Darwish yang terkenal adalah “Burung Tak Bersayap (1960), Aku Mencintaimu atau Aku Tak Mencintaimu(1972), Kenapa Kau Tinggalkan Kuda Sendirian (1996), Dan Tak Perlu Minta Maaf Atas Apa Yang Kau Perbuat (2004).

Darwish pernah berkata pada semua orang bahwa seseorang hanya dapat dilahirkan disuatu tempat, tetapi ia bisa saja berkali-kali mati di tempat lain, di pengasingan ataupun dipenjara. Bahkan di negeri kelahirannya sendiri yang telah diubah menjadi mimpi buruk oleh penjajah atau penindas yang tak punya hati. Puisi mengajarkan kita untuk memelihara ilusi penuh pesona, bagaimana melahirkan diri kita berkali-kali dan menggunakan kata-kata yang membangun dunia lebih baik, sebuah dunia yang bersifat fiksi yang memungkinkan kita untuk menandatangani suatu perjanjian perdamaian dalam kehidupan.

  Belajar dari Sebuah Perjalanan

Hal-hal tersebut telah menjadi nafas pencarian sajak-sajaknya, di waktu Darwish masih duduk di bangku sekolah. Ia menuliskan puisi yang ditujukan kepada seorang anak Israel dan untuk tugas sekolah dalam rangka merayakan hari jadi Israel. Ide dasar puisi itu berisi “kau bebas bermain dibawah cahaya matahari, sedangkan aku tidak; kau punya banyak boneka, tapi aku tidak; kau punya rumah, tapi aku tidak; kau punya banyak hari perayaan, tapi aku tidak; mengapa kita tak boleh bermain bersama?”

Pernah ia disuruh menghadap Gubernur Militer dengan hal yang tak wajar yaitu karena ia sering menulis. Gubernur Militer mengancamnya “jika kamu masih menulis maka ayahmu akan dipecat”. Namun, ia tak menghiraukannya sama sekali, Darwish tetap menulis sampai akhir hayatnya. Jiwa humanisme-nya telah melekat dalam dirinya sampai-sampai ia menulis puisi selalu dengan rasa kemanusiannya. Ia, seperti dikutip oleh Maya Jaggi dalam The Guardian edisi 08 juni 2002, berkata  “aku akan terus memanusiawikan bahkan itu musuhku sendiri, guru pertamaku adalah seorang Yahudi, cinta pertamaku adalah seorang gadis Yahudi, jaksa yang pernah mengirimku ke penjara adalah seorang Yahudi, jadi sejak awal aku tidak melihat seorang Yahudi sebagai Iblis ataupun sebagai Malaikat melainkan tetap sebagai manusia”.

Ada salah satu puisi yang berjudul I Have Witnessed The Massacre, yang melukiskan metamorfosis jiwa Mahmoud Darwish dari seorang saksi menjadi seorang korban yang kemudian menjadi seorang yang melawan, di akhir sajak terdapat simbol yang memperlihatkan optimisnya bahwa harapan tentang perdamaian akan tumbuh di negara Palestina.

Aku menjadi saksi pembantaian

Aku seorang korban dari peta buatan

Aku anak laki-laki dari kata yang tanpa hiasan

Aku melihat koral berterbangan

Aku melihat embun berubah jadi bom yang berjatuhan

Ketika mereka menutup pintu-pintu hatiku memasang barikade

Dan menetapkan jam malam

Hatiku berubah jadi lembah

Sulbiku menjelma batu

Dan bunga-bunga anyelir tumbuh

Dan kembang-kembang anyelir mekar

Darwish juga pernah menyusun isi deklarasi kemerdekaan Palestina pada tahun 1988 dan menjadi anggota Komite Eksekutif Palestine Liberation Organization (PLO) sampai tahun 1993. Kemudian ia keluar dari PLO sebagai protes atas kesepakatan Oslo yang memihak pada Israel. Ia tetap menjauhkan dirinya dari konflik kepentingan kelompok dalam tubuh PLO. Ia juga pernah menjadi pimpinan redaksi  majalah sastra di Paris. Selama karir penyairannya ia banyak mendapatkan berbagai penghargaan.