Gus Sholah Ceritakan Perkembangan Pesantren di Forum Peluncuran YP3I

464
KH. Salahuddin Wahid menyampaikan sambutan sebagai Keynote Speaker dalam pencuran YP3I di Pesantren Tebuireng pada Sabtu (18/03/2017). (Foto: Kopi Ireng)

Tebuireng.online – Didapuk sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), Ir. (HC). KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), dalam sambutannya sebagai ‘Keynote Speaker’ pada acara Seminar, Peluncuran & Pengukuhan YP3I, Sabtu (18/03/17) di Lt.3 Gedung KH. M. Yusuf Haysim, lebih banyak menyajikan data statistik terkait perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia.

Gus Sholah menjelaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Nusantara. “Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, yang tertua dan yang kini masih aktif ialah Pesantren Sidogiri (hampir 300 tahun),” terang Gus Sholah di depan ratusan pimpinan pondok pesantren yang hadir di Aula Bakhir Ahmad, Lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Tebuireng Jombang.

Selain itu, Gus Sholah juga menilai bahwa pendirian Sekolah Belanda adalah salah satu upaya untuk melemahkan sistem pendidikan pesantren yang menjadi urat masyarakat Indonesia kala itu. “Sekolah Belanda yang menjadi cikal bakal sekolah yang kini kita kenal di Indonesia berusia 100 tahun lebih muda. Snouck Hurgronye mengusulkan mendirikan sekolah Belanda dengan tujuan untuk mendidik pemuda Indonesia yang akan bekerja untuk Belanda dan juga untuk mencoba mengurangi pengaruh pesantren,” imbuhnya.

Ketua Badan Pembina YP3I tersebut juga mengungkapkan betapa penting peran dan kontribusi Ulama. Menurutnya Ulama juga sebagai garda terdepan melawan penjajahan Belanda. “Menurut Donald Eugene Smith dalam buku “Religion, Politics, and Social Change in the Third World”, ulama memegang  peran penting dalam memimpin perlawanan terhadap imperialisme Barat yang berupaya mengembangkan agama Katolik dan Protestan. Islam menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah Barat. Menurut Wetheim dalam buku “Effects of Western Civilazation on Indonesian Society”, efek dari agresi imperialisme Barat membuat raja-raja Hindu dan Budha memeluk Islam dan menjadikan Islam sebagai gerakan untuk melawan penetrasi Kristen,” tegasnya.

  Kiai Sahal Mahfudh, Sang Pelopor Fikih Sosial

Saat ini, perkembangan pendidikan pesantren dimulai pada tahun 1950an. Madrasah (MI, MTs, MA) mulai didirikan, dan pada akhir 1950-an mulai banyak alumni pesantren memasuki IAIN. “Sebagian dari mereka belajar ke banyak perguruan tinggi yang bermutu di Australia, AS, dan Eropa,” ujarnya.

Gus Sholah juga menjelaskan bahwa di akhir tahun 1970-an jumlah pesantren mencapai hampir 5.000. Pada akhir 1990-an, jumlah tersebut meningkat menjadi dua kali lipat. Pada saat ini jumlah pesantren mencapai hampir 30.000, sebagian adalah pesantren kecil dengan jumlah santri dibawah 200. Sekitar 80% terletak di Pulau Jawa, sedangkan di luar Jawa masih terdapat kekurangan sekitar 6000 pesantren.

“Inilah tugas YP3I untuk mendirikan pesantren di luar Jawa,” sahut adik kandung Gus Dur ini.


Pewarta:    Rif’atuz Zuhro

Editor:       Munawara

Publisher:  M. Abror Rosyidin