Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr.(Hc). Ir. KH. Salahuddin Wahid. (Foto: Abror Rosyidin)

Oleh: Dr. (Hc). Ir. KH. Salahuddin Wahid

Pada 9 Februari 2014 diadakan seminar di hadapan sekitar 350 guru yang diadakan atas kerjasama Lembaga Pendidikan al Hikmah, Pasiad dan Pesantren Tebuireng. Al Hikmah berhasil mengembangkan pendidikan Islam yang baik di Surabaya: SD, SMP dan SMA. Pasiad adalah lembaga kerja sama Turki yang membuka sekitar 7-8 sekolah di beberapa kota di Indonesia: Jakarta, Bandung, Semarang, Depok, Aceh dan lain-lain.

Dalam ceramahnya Ir. Abdul Kadir Baraja menyampaikan kisah tentang dirinya yang amat menarik dan patut direnungkan. Pada 1963, setamat Pak Baraja mendaftar ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya, yang di zaman Belanda namanya Kweek School. Setamat SGA siswa harus ikut pendidikan B1 dan B2 lalu bisa bekerja sebagai guru. Ternyata Pak Baraja tidak diterima menjadi siswa SGA, artinya dia dinilai tidak bisa menjadi guru.

Lalu Pak Baraja mendaftar ke SMA Negeri 2 Surabaya dan langsung diterima. Setamat SMA dia menjadi mahasiswa ITS dan setelah tamat dia menjadi pengusaha sukses serta aktif dalam Yayasan al Hikmah dan punya prakarsa mendirikan Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF) yang kini menjadi salah satu LAZ terkemuka di Jawa Timur.

Dari kisah di atas, bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi guru pada era 50 tahun lalu persyaratannya ketat. Dari kelompok keturunan Arab seperti Pak Baraja di Surabaya, tokoh terkenal yang diterima di SGA dan menjadi pendidik ialah Pak Fuad Hassan. Artinya profesi guru pada saat itu diisi oleh orang-orang pilihan, bukan sisa-sisa dari tamatan SMA yang tidak diterima di ITB, UI, UGM, ITS, IPB, dll. Kondisi seperti itu masih terus diterapkan di Finlandia yang memilih 10 peringkat teratas di sekolah untuk dididik menjadi guru.

Saya ingin mengangkat kisah Prof. Slamet Iman Santoso dari Fakultas Psikologi seperti berikut. Beliau menyatakan bahwa pendidikan di sekolah yang dialaminya selain untuk menguasai ilmu pengetahuan, juga dirasakan olehnya terjadi pula proses membentuk watak tanpa kata. Hasil dari proses itu ialah “kebiasaan membaca sendiri, belajar mengerti sendiri, berusaha mengulangi soal yang lampau (memory training), memiliki keyakinan dan kepercayaan kepada diri sendiri, mandiri, jujur, terbuka, mengetahui batas kemampuan.

Prof. Selamet menulis bahwa “guru datang lebih dulu dan pulang paling akhir. Para guru mengerti jiwa anak dan membimbing jiwa tersebut dengan penuh ikut merasakan ke arah disiplin yang dikehendaki”. Karena dilatih selama tujuh tahun, maka hal itu menjadi kebiasaan sepanjang hidup. Proses itulah yang dialami oleh para pendiri bangsa. Dan yang mendidik adalah guru-guru Belanda. Satu-satunya kritik dari Prof. Selamet adalah pendidikan semacam itu tidak diadakan bagi semua orang, tetapi hanya bagi kelompok elit. Generasi saya masih merasakan hasil didikan guru-guru yang dicetak oleh Belanda itu.

  Para Presiden dan G-30-S

Pada akhir 1960-an ratusan guru, mungkin ribuan, dikirim ke Malaysia yang meminta bantuan tenaga guru ke Indonesia. Sebagian yang cukup besar tidak kembali lagi dan menjadi guru tetap di sana. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa mereka yang menjadi guru adalah bukan siswa-siswa terbaik, yaitu mereka yang gagal untuk menjadi mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Akibatnya kebanyakan guru kita kurang mampu mengajar dan mendidik anak bangsa.

Setelah diangkat menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng, saya berusaha keras untuk meningkatkan mutu guru karena kunci dari pendidikan adalah guru yang bermutu. Sungguh tidak mudah untuk melakukan hal itu. Saya mendirikan unit penjamin mutu. Pada Januari 2013 saya mengangkat seorang wakil pengasuh yang bertanggung jawab untuk pengelolaan  6 unit sekolah di dalam lingkungan Pesantren Tebuireng yaitu SMP, SMA, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Madrasah Muallimin yang hanya belajar ilmu agama dan SD Ir. Sudigno yang terletak di Desa Kesamben, 25 km dari Tebuireng.

Pak Baraja mempunyai program yang mulia dan menarik yaitu mendirikan lembaga pendidikan guru yang namanya al Hikmah School of Education, yang didirikan dengan bekerja sama dengan Pasiad Turki. Pendidikan itu lamanya 5 tahun untuk 60 orang dan tidak mengenakan biaya sama sekali. Calon siswa dicari dengan kriteria cerdas, berakhlak dan tidak mampu secara finansial. Mereka diasramakan dan diharapkan akan menjadi guru yang baik seperti yang dihasilkan oleh SGA dan pendidikan B1 dan B2 pada era 60 tahun lalu.

Kita berharap akan muncul banyak pihak yang bersedia melakukan kegiatan mulia dan strategis seperti yang dilakukan oleh al Hikmah. Pemerintah juga perlu membantu mereka yang melakukan kegiatan seperti itu. Hanya guru yang baik akan menghasilkan anak bangsa yang baik. Dan masa depan Indonesia amat tergantung pada anak bangsa yang terdidik dengan baik.


*Pernah dimuat di Pelita Hati pada tanggal 11 Februari 2014 dan Majalah Tebuireng edisi 47 November-Desember 2016.