Aoqi, Sang Ensiklopedia Berjalan dari Gresik

4971
Aoqi Purnama Bakhtiah (Foto: dokumentasi Ustadzah Ilma)

tebuireng.online– Banyak yang memandang keterbatasan sebagai kelemahan sehingga membuat orang itu talut, putus asa, dan tak berani keluar sebagai dirinya sendiri. Menjadi orang yang berbeda pada umumnya, terkadang menjadi ilusi semu atas keterlibatan diri dalam garis takdir sang Khalik.

Sabtu (18/02/2017), lantai ruang BK  MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng terasa berbeda. Jika hari-hari kemarin ruangan ini menjadi lokasi eksekusi bagi siswa atau siswi mbalarah, kali ini tidak. Lantai ruang BK mempersilakan tubuh ini dengan sopan dan beradab untuk berbincang sambil wawancara dengan seorang siswi yang sangat berbeda dan inspratif, ditemani sang guru BK yang biasa dijuluki “tukang reparasi akhlaq”, Ibu Mevrouw Ifa Azizah.

Siswi yang duduk sambil sesekali bergerak dalam ragam ekspresi ini biasa dipanggil Aoqi. Ia yang  berusia 13 tahun dan pada 12 September nanti bertambah menjadi 14 tahun adalah santriwati Pondok Putri Pesantren Tebuireng asal Gresik. Sepanjang wawancara ia sesekali membetulkan kacamatanya yang naik-turun di lembah alisnya yang berwarna hitam pekat. Terkadang juga membetulkan posisi duduknya, seakan mecari-cari posisi duduk yang nyaman baginya.

Aoqi Purnama Bakhtiah, seorang siswi yang mencuri perhatian banyak orang di MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, bahkan seantero Pesantren Tebuireng. Berkat kepintarannya dalam Bahasa Jepang, Melayu, Inggris, dan Portugis, orang-orang sering mensejajarkannya dengan finalis lomba Matematika di Singapura, Iklil Al Milady. Bahkan kemampuannya yang dapat menguasai berbagai bahasa itu belum dapat dikejar santri lainnya, untuk saat ini.

“Aku belajar Bahasa Jepang itu lewat animasi Mister Otsomatsu dan Love Life Sunshine. Aku nonton itu pakai Bahasa Jepang, tapi subtitlenya Bahasa Inggris,” begitulah tuturnya.

Ia memilih Tebuireng sang kakak sekarang masih menempuh pendidikan SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng dan lulusan MTs Salafiyah Syaf’iyah, sekolah yang Aoqi pilih untuk menunjang masa depannya.

Kata orang Aoqi berkebutuhan khusus. Menurut keterangan dari Ustadzah Ilma, pembina kamar tempat Aoqi bernaung, Sang Ibu sudah membawanya berobat kemana-mana, tetapi tak kunjung sembuh, sehingga dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya. Tapi Ustadzah Ilma menegaskan bahwa dengan kondisi apapun, Aoqi adalah santriwati yang cerdas, semangat, dan penuh energi.

Walau dalam kondisi yang begitu, Aoqi tak patah semangat. Di saat temannya yang “normal” bermain-main dengan api waktu dan lalai dalam belajar, Aoqi berusaha sekuat tenaga menjadi diri sendiri melawan kemalasan. Kecakapannya dalam berbahasa asing yang tak banyak anak seusianya mampu menguasai cukup menjadi bukti bahwa Aoqi bukan sembarang anak.

  Sandiaga Uno: Santri dan Pemuda Nahdliyin Harus Mandiri

Dulu, saat awal masuk pondok, dalam ingatan Ustadzah Ilma, dari lisan Aoqi tak keluar kata-kata banyak, memilih diam jika diajak bicara, bahkan tak berani memandang lawan bicaranya. “Dulu awal masuk, dia tidak mau bicara, dia lebih milih diam. Kalau diajak ngobrol dia tidak berani liat lawannya. Tapi lama kelamaan Alhamdulillah dia bisa sedikit demi sedikit ngobrol dan guyonan sama teman-temanya,” cerita Ustadzah yang meng-gumun bangga anak didiknya telah berkembang pesat.

Dia adalah sosok santriwati yang rajin dan semangat. Berbagai kesulitan yang dicapainya tak membuatnya pesimis, melainkan memotivasinya untuk menaklukkan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Dia mempunyai motto untuk melipatgandakan semangat di saat semangatnya anjlok.

Sebuah kata mutiara dari Kurosawa Ruby dan Kousaka Honoka menjadi pegangan prinsip bagi putri pasangan Nanik Yuniarti dan Hasmara Santo ini. Kurosawa Ruby mencetuskan “Ganbaruby!” Selanjutnya, Kousaka Honoka menyuarakan “Faito Dayo!”. Kata alumni SD YIMI (Yayasan Islam Malik Ibrahim) kedua kata tersebut memiliki arti yang sama, yaitu fighting!.

Tak hanya pandai dalam beberapa bahasa asing, Aoqi bahkan mengerti dan mengetahui analisa tentang peristiwa terkini. Ia sangat mengidolakan Barack Obama dan Nelson Mandela. Baginya, Barack Obama dan Nelson Mandela tidak membeda-bedakan suku, ras, origin, dan kepercayaan.

“Berkat Nelson Mandela, Afrika Selatan terbebas dari rezim Apartheid, rezim yang membeda-bedakan warna kulit, juga Barack Obama, ia salah satu Presiden Amerika Serikat yang berkulit hitam,” ucapnya diselingi tawa semringah.

Tak hanya itu, ia terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap terpilihnya   Donald Trump sebagai Presiden AS. Alasannya sama dengan kebanyakan orang yang tak suka dengan Trump, ia sangat diskriminatif terhadap orang muslim. Pada Pilpres AS lalu, ia menyatakan dukungan kepada Hillary Clinton. Dengan pengetahuannya ini, hampir mustahil dia tidak membaca.

Di saat anak seusianya tak banyak suka membaca koran dan berita tentang perkembangan isu dunia, anak yang dibilang memiliki keterbelakangan ini malah gemar membaca dan menganalisa peristiwa-peristiwa terkini. Maka tak heran, jika teman-temannya menjulukinya sebagai “Sang Ensiklopedia Berjalan”.

Di balik kelemahan, Tuhan menciptakan kelebihan. Aoqi telah membuktikan bahwa keterbatasan apapun bukan menjadi alasan untuk berhenti bergerak maju dan mensejajarkan diri, bahkan melebihi, capaian orang lain. “Special Children for Special Parent”, anak istimewa untuk orang tua yang istimewa pula.


Pewarta: Galih Budi Ramadan

Editor:     M. Abror Rosyidin

Publisher: M Abror Rosyidin